Labels

Friday, December 30, 2011

Seminar UI ~ Pers Kampus

Sabtu, 17 Desember 2011

UI..aku daaaaatttttttaaaaaaaaaang!!!!!

Wuuii...senang naa, akhirnya bisa juga menjejakkan kaki di UI. Aromanya rerumputan basah. Wii..pokok kee UI luas tenan. 

Sabtu itu, UI mengadakan workshop “Pers Kampus 2011” di auditorium gedung Ilmu Komunikasi, FISIP. Workshop dibagi ke dalam 2 sesi dengan 2 pembicara di masing – masing sesi. Dapat makan pula.

Sekitar pukul 09.30 sesi  pertama dimulai. Dibuka dengan kata sambutan dari Ketua Pelaksana Workshop ini, Pak A.G. Sudibyo. Dari kata sambutan beliau, sekilas sejarah pers kampus dipaparkan. Kita jadi tahu betapa menegangkannya situasi pers masa Orde Baru. Sering kali harap – harap cemas akan ada lagi teman seperjuangan yang hilang. OrBa telah berlalu, lalu apakah tantangan bagi aktivis pers kampus masa kini?

Jawabannya datang dari pembicara pertama kita,  General Manager News and Sports tvOne, Totok Suryanto. Menurut beliau, tantangan utama yang harus dihadapi aktivis pers masa kini adalah semangat untuk terus belajar. Apa pun halangan dan rintangannya, kunci utama untuk melaluinya yaitu dengan memiliki semangat yang terus berkobar dan tidak pernah redup.

Totok banyak menceritakan pengalaman – pengalamannya sebagai wartawan dan menggambarkan kepada kita suasana di ruang redaksi. Bagi seorang wartawan, ruang redaksi merupakan rumah kedua. Semua anggota dalam ruang redaksi adalah jurnalis. Orang –orang yang bekerja dalam newsroom system, tim gathering (reporter, kameramen, supir), tim koki (produser, presenter, editor), broadcast people (program director & awak ruang kontrol) beserta kru studio bekerja sama mempersembahkan berita yang terbaik dan teraktual, berkutit dengan teknologi – teknologi termuktahir.

Beliau juga mengajarkan kita untuk selalu menjadi seorang penantang bukan pemenang. Merasa diri sebagai pemenang hanya membuat kita menjadi sombong, sementara penantang adalah orang yang selalu berusaha bersaing. 

Pembicara selanjutnya adalah salah seorang Guru Besar FISIP UI Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja. Topik pembicaraan yang beliau sampaikan mengenai regulasi penyiaran di Indonesia antara idealisme dan realita bisnis. Sebagai seorang mantan ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), beliau banyak menceritakan konsepsi media penyiaran di Indonesia dan realitas perkembangan penyiaran di Indonesia. 

Bisnis penyiaran bukanlah bisnis biasa karena menggunakan frekuensi sebagai ranah publik yang sumber dayanya terbatas. Oleh karena itu, penyiaran harus diregulasi.
Prof. Sasa berteori bahwa media adalah refleksi masyarakat. Media yang baik mencerminkan masyarakat yang baik, media yang buruk mencerminkan masyarakat yang buruk pula. 

Menurut Sejarahwan Amerika Serikat Paul Johnson, terdapat 7 dosa terbesar pers yaitu 1) Distorsi Informasi, 2) Dramatisasi fakta palsu, 3) Mengganggu privasi, 4) Pembunuhan karakter, 5) Eksploitasi seks, 6) Meracuni benak pikir anak – anak, dan 7) Penyalahgunaan kekuasaan (power abuse).

Naah, KPI berperan dalam mengawasi dan mengontrol agar media penyiaran Indonesia tidak melakukan ketujuh dosa besar tersebut. 

Prof. Sasa menuturkan masih banyak yang perlu diperbaiki dalam dan oleh KPI. Oleh karena itu, KPI selalu melakukan audit metodologi.

Sesi pertama pun berakhir. Presentasi yang dibawakan kedua pembicara mengesankan dan mengena di hati serta perut (lapar maksudnya).

Usai makan siang, kita berlanjut ke sesi dua. Topik yang dibawakan adalah tahap – tahap penulisan dalam jurnalistik dan menulis tajuk rencana.

Pembahasan dimulai dari hal yang paling mendasar, yaitu definisi menulis. Menulis adalah mengutarakan fakta, gagasan, dan perasaan yang ditransformasikan dalam bentuk teks. Penulisan karya jurnalistik termasuk penulisan karya ilmiah dimana penggunaan bahasa dan diksi sangat penting untuk dikuasai oleh penulis. Bahasa ilmiah sendiri mengutamakan konsep dan karya ilmiah itu ketat bahasa.

Tahap – tahap penulisan karya jurnalistik, 1) Menentukan topik, 2) Mengumpulkan data untuk memahami topik secara rinci, 3) Bertanya kepada orang – orang yang memahami topik tersebut (narasumber), 4) Melakukan peninjauan langsung, terakhir 5) Menghimpun data. 

Topik berbeda dengan tema. Topik melingkupi persoalan atau bidang masalah yang dipilih untuk ditulis, didisertasikan atau dibahas. Tema ialah keterangan singkat mengenai topik. Dalam memilih topik pembahasan disarankan untuk membahas topik yang penting bagi khalayak, informatif, topik yang mendidik atau menyenangkan bagi khalayak, ruang lingkup kecil, aktual atau terkini dan merupakan pembahasan yang dikuasai oleh penulis.

Topik terakhir dibawakan Prof. Zulhasril Nasir. Beliau mengajarkan kepada kita membuat tajuk rencana yang baik serta menjelaskan pentingnya membuat tajuk rencana.

Tajuk rencana merupakan tulisan opini yang berfungsi sebagai ruang atau kesempatan bagi redaksi untuk memberikan pendapat yang membedakannya dengan tulisan – tulisan faktual (news).

Dalam menulis tajuk rencana, Prof Nasir mengajarkan kita untuk selalu menempatkan diri sejajar dengan publik sehingga kita dapat bersikap demokratik, terbuka dan menghidari diri dari sikap menggurui. Menulis harus dengan sikap rasional dan tidak membakar atau memperluas konflik melainkan meredam atau mendinginkan.

Sesi kedua terasa kontras dengan sesi pertama. Walaupun sesi kedua terasa membosankan, namun pembahasan yang dibagikan sama bermanfaatnya dengan sesi pertama. ^^v

No comments:

Post a Comment