Labels

Thursday, October 16, 2014

Newsletter -Kapita Selekta- "The Future of Communication"

Halaman 1

Halaman 2

Halaman 3


Halaman 4


DAFTAR PUSTAKA
Essra, Try Reza. 2014, 14 Oktober. Jakarta kota pintar, mungkinkah? <http://www.antaranews.com/berita/458568/jakarta-kota-pintar-mungkinkah?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=flybox>. [Akses 14 Oktober 2014]

___________________________. Indonesia butuh banyak ahli teknologi informasi. <http://www.antaranews.com/berita/458694/indonesia-butuh-banyak-ahli-teknologi-informasi?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter>. [Akses 14 Oktober 2014]

Fatir, Darwin. 2014, 14 Oktober. Anies: Perluasan akses internet penting. <http://www.antaranews.com/berita/458556/anies-perluasan-akses-internet-penting?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=flybox>. [Akses 14 Oktober 2014]

Khairany, Rr. Chornea. 2014, 13 Oktober. Jokowi-Zuckerberg bahas rencana perluasan akses internet. <http://www.antaranews.com/berita/458370/jokowi-zuckerberg-bahas-rencana-perluasan-akses-internet>. [Akses 14 Oktober 2014]

Nurcahyani, Ida. 2014, 13 Oktober. Jokowi: baru lima menit blusukan Zuckerberg capek. <http://www.antaranews.com/berita/458357/jokowi-baru-lima-menit-blusukan-zuckerberg-capek>. [Akses 14 Oktober 2014]

http://thenextweb.com/media/2012/07/15/whats-the-future-of-communication-lets-ask-the-experts/

http://www.nefosnews.com/post/pemilu-2014/jokowi-bertemu-bos-facebook-bantu-pemerintahan-di-bidang-internet

Wednesday, October 15, 2014

Mencari Jokowi Ganti Wakil Gubernur

Hmmph..ternyata Ahok belum bisa lepas dari sosok Jokowi, mantan superiornya di Balaikota. Lihat saja kriteria yang ia rekomendasikan untuk bisa terpilih sebagai wakilnya. Lagi-lagi adalah pemimpin yang bisa mengutamakan pedagang kaki lima daripada konglomerasi mall, yakni berpihak pada rakyat kecil. Ialah Djarot Saeful Hidayat, mantan walikota Blitar yang Ahok harapkan bersanding di kursi pelaminan nomor satu D.K.I. Jakarta.

Mengenal Djarot Saeful Hidayat
Djarot Saiful Hidayat
Pria berkumis dan berkacamata ini kelahiran Gorontalo, 30 Oktober 1955. Kancahnya di dunia politik tergolong matang. Tahun 1999-2000 dilantik sebagai Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah jawa Timur, pun Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan (2005-2010). Pernah juga beliau menjadi anggota DPR RI. Baru kemudian pada tahun 2000 hingga 2010, beliau terpilih sebagai walikota Blitar 2 periode. Dan berkat kebijakan beliau yang sangat membatasi pendirian gedung-gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan besar seperti mall, serta mengutamakan pedagang kaki lima sebagi penggerak roda perekonomian daerahnya lah, Djarot dianugerahi sejumlah penghargaan. Sebut saja diantaranya, Penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah pada tahun 2008, Penghargaan Terbaik Citizen's Charter Bidang Kesehatan, Anugerah Adipura dalam 3 tahun berturut-turut, yakni tahun 2006, 2007, dan 2008. Pada 22 Maret 2010, beliau juga mendapat Peringkat Pertama dalam penerapan E-Government di Jawa Timur.

Di samping menjadi politisi, beliau juga seorang dosen sekaligus guru besar. Bahkan pernah menjabat sebagai pembantu rektor 1 Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG), Surabaya pada 1997 sampai 1999. Latar belakang pendidikan beliau antara lain menempuh S1 Ilmu Administrasi (FIA) di Universitas Brawijaya (UNBRA), Malang pada tahun 1986; S2 Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta pada 1991 dan Universitas Amsterdam pada 2002.

Kemiripan dengan Joko Widodo
  1. Walikota selama 2 periode berturut-turut
  2. Kebijakan pro rakyat mengenai penertiban PKL dan minimalisasi mall
  3. Mengedepankan program E-Government
  4. Menata birokrasi
Kesamaan visi-misi inilah yang menjadi alasan Basuki Tjahja Purnama, atau yang akrab disapa Ahok, menghendaki sosok Djarot sebagai wakil gubernur yang pantas memimpin ibukota bersamanya. Sudah "sreg" istilahnya Ahok ini. 

"Kalau saya maunya orang yang jujur dan juga bekerja keras agar pembangunan bisa berjalan dengan baik. Tentunya dia juga harus punya rekam jejak yang jelas," ujar Ahok di Balaikota seperti yang dilansir dari Antaranews.com.

Ya, setuju, Pak! Cari yang pasti-pasti aja lah. Pasti bersih dan tegas. Jangan yang pasti korupsi. Ckckck...

Referensi:
Khairany, Rr. Chornea. 2014, 14 Oktober. Ahok inginkan sosok wagub pekerja keras, jujur, dapat rekomendasinya. <http://www.antaranews.com/berita/458670/ahok-inginkan-sosok-wagub-pekerja-keras-jujur-dapat-rekomendasinya>. [Akses 14 Oktober 2014]

Pratama, Giri Lingga Herta. 2014. Biografi: Djarot Saeful Hidayat.  <http://profil.merdeka.com/indonesia/d/djarot-saiful-hidayat/>. [Akses 14 Oktober 2014]

Tuesday, October 14, 2014

Grafis Media pada Majalah Gatra (Part 3)

Dalam kesempatan ini, majalah Gatra penulis pilih sebagai objek analisis grafis media pada majalah. Akibat dibredelnya majalah Tempo oleh Orde Baru, terbitlah majalah bentukan Orba bernama Gatra. Hinggi kini bisa kita lihat betapa banyak kemiripan desain grafis terutama pada bagian cover atau sampul depan majalah Gatra dan Tempo. Dan apabila diusut lagi, kedua majalah tersebut sama-sama meniru majalah TIME, majalah berita mingguan terkemuka di Amerika Serikat. 

Majalah Gatra merupakan majalah yang berafiliasi politik dan ekonomi. Pendiri Gatra ialah Bob Hasan, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI ke-25. Gatra diterbitkan setiap minggu sejak tahun 1994. Pada masa orde baru, majalah ini berafiliasi dekat dengan presiden saat itu, Soeharto. 

Majalah Gatra yang hendak diusut penulis dalam kesempatan ini yaitu majalah gatra edisi 10-16 Juli 2014. Tepatnya pada bagian sampul dibahas sekilas dan laporan utama pada halaman 12-15 yang merupakan satu rangkaian berita. 

Analisis Gatra
Kata Gatra dalam KBBI berarti wujud, sudut pandang, aspek; atau lingkungan tertentu dalam kalimat yang dapat ditempati oleh suatu unsur bahasa. Makna kata Gatra sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti calon makhluk, anggota tubuh. (http://www.organisasi.org/1970/01/arti-nama-gatra-kamus-nama-kata-dunia.html) Dalam pengertian Jawa, gatra berarti jumlah baris dalam tembang macapat. (Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Macapat)

Majalah Gatra edisi 10-16 Juli 2014
Kembali kepada desain grafis, Sampul Gatra pada edisi 10-16 Juli 2014 mengangkat isu keterpilihannya Presiden RI ketujuh Joko Widodo versi hitung cepat. Dalam sampulnya, digambarkan wajah Jokowi berpeci yang dibentuk dari kumpulan rakyat Indonesia yang tengah bersorak-sorai. Maksudnya jelas, Jokowi adalah presiden yang diinginkan rakyat dan ketika beliau terpilih, masyarakat berbahagia dalam pesta demokrasi Indonesia 2014. 

Rupa huruf yang digunakan menyerupai majalah sadurannya, Time dengan huruf kapital semua. Mulai dari judul atau brand majalah yang serba merah, menyimbolkan semangat, sampai kepada judul-judul artikel yang diusut dalam edisi tersebut. 

Penggunaan rupa huruf dengan font besar dan serif ini tepat karena positioning-nya sebagai majalah berita yang serius namun tetap menarik. Oleh karena itu digunakan huruf serif (huruf berkait). Dan font yang besar dengan huruf capital semua juga lebih memudahkan pembacaan dan daya tangkap huruf jelas. Demikian juga warna yang dipilih.  

Tema majalah “Presiden Pilihan Kita” diketik dengan warna merah (PRESIDEN) dan putih (PILIHAN KITA) melambangkan bendera kebangsasan, Sang Saka Merah Putih. 

Gambar Jokowi yang dipilih ialah foto berkerah putih dan berpeci. Kerah putih (white collar) dalam budaya barat digambarkan sebagai kaum elit, pekerja kelas atas, pekerja bersih dan bangsawan. Namun dalam hal ini, kerah atau kemeja putih ini adalah framing pengambilan sosok Jokowi yang putih, maksudnya berekam jejak bersih dan sederhana. Berpeci menyatakan bahwa ia adalah seorang muslim. Dan dari segi demografi, mayoritas masyarakat Indonesia memang beragama Islam. 

Majalah Gatra edisi 10-16 Juli 2014 halaman 12-13
Memasuki rubrik laporan utama, artikel di atas menunjukkan pemilihan huruf untuk judulnya adalah serif bold. Tidak menggunakan kait yang terkesan lebih luwes. Judul artikel diberi penegasan dengan menggunakan font paling besar, menggunakan warna hitam dan di-bold. Sementara penulisan rubrik laporan utama dan halaman pada pojok kiri ditulis menggunakan font yang lebih kecil dan berwarna merah karena merupakan warna khas majalahnya. 

Foto yang menjadi kekuatan visual berita diletakkan lebih dulu, berukuran besar hingga memakan satu sepertiga halaman. Tata letak demikian dimaksudkan untuk menarik perhatian dan memberi gambaran lebih serta mengomunikasikan pesan yang tidak bisa tergambarkan melalui tulisan atau akan kurang sedap jika dijelaskan melalui kata-kata. keterangan foto sudah tepat ditaruh di bawah foto. 

Lead atau teras berita ditulis di samping kanan foto dengan font yang lebih besar dari artikel namun lebih kecil dibanding judul. Kemudian penulisan artikel diawali huruf Wordcaps. Ini dimaksudkan agar lebih mudah dikenali sebagai kalimat awal dalam bacaan tersebut.

Mengenai spasi atau ruang putih, diberikan sudah cukup signifikan. Dengan spasi yang mudah dibaca dan menegaskan mana paragraf yang berbeda. River (sungai), yakni spasi yang terlalu lebar akibat perataan kiri-kanan tulisan (judgement) pada setiap kolomnya teratasi dengan baik. Dalam artian hanya ditemukan sedikit sekali river.

Majalah Gatra edisi 10-16 Juli 2014 halaman 14-15
Selanjutnya mengenai hasil pemilu juga tidak hanya disajikan melalui kata-kata. Melainkan dengan grafik sebaran (halaman 15 bawah) dan tabel (halaman 14 pojok kiri atas) di halaman berikutnya. Sayangnya, tampilan tabel dan grafik sebaran masih terkesan kaku. Tidak luwes sama sekali. Melihat tampilan demikian masih seperti membaca tampilan koran. Bedanya hanya ini lebih berwarna dan kualitas kertas jauh lebih bagus.
Untuk keberimbangan atau cover both side, disajikan pula gambar Prabowo saat di TPS pada halaman 14-15. Namun tetap, karena tokoh utamanya Jokowi, ia ditampilkan lebih dulu fotonya pada halaman 12-13, bersanding dengan pembinanya di partai banteng moncong putih Megawati Soekarno Putri dan wakil presidennya Jusuf Kalla.

Kesimpulan
Majalah Gatra merupakan majalah yang didasari ideologi politik dan ekonomi. Majalah bertipe demikian cenderung menunjukkan keseriusan. Sehingga kurang bereksperimen dalam perancangan grafis medianya. Dengan kata lain, majalah semacam ini cenderung bersifat kaku dan membosankan. Pengembangan rancangan visual yang lebih luwes sering kali diabaikan demi menekankan kesan serius. 

Bandingkan dengan majalah saingannya, Tempo yang lebih kreatif dalam memainkan ilustrasi. Tempo juga serius dan liputannya mendalam seputar pemerintahan, politik dan kebijakan. Namun mengapa Tempo tirasnya lebih besar?

Kelebihan suatu media untuk beromzet besar kunci utamanya adalah kredibilitas. Yang kedua, tampilan media. Tampilan media dengan dukungan desain grafis yang kreatif dan inovatif tentunya akan mampu mendongkrak nilai jual media tersebut.