Labels

Monday, November 16, 2015

Setara Institute Dorong Jokowi Reshuffle Menteri di Bidang Ekonomi

Reshuffle Kabinet II, Setara Institute melalui studi kualitatif "Kinerja Kabinet Kerja" yang dirilis pada Minggu (15/11/2015) di kantornya, Jalan Danau Galinggang, Benhil, Jakarta Pusat merekomendasikan Jokowi-JK untuk berfokus merombak menteri-menterinya yang bergerak di bidang ekonomi.

Berdasarkan hasil studi kualitatif yang dilakukan sejak pertengahan September 2015 itu, tidak satupun menteri di bidang ekonomi yang masuk kategori 10 menteri berkinerja baik.

"Jika pada reshuffle I Jokowi-JK fokus pada menteri-menteri bidang ekonomi, pada reshuffle II Jokowi-JK didorong agar kembali melalukan perombakan pada menteri-menteri bidang ekonomi," kata Ketua SETARA Institute Hendardi dalam konferensi pers di kantornya pada Minggu (15/11/2015).

Menteri bidang ekonomi yang kinerjanya dinilai paling buruk adalah Menteri BUMN Rini M. Soemarno dengan perolehan akumulasi poin 5,71. Diukur dari segi kepemimpinan, kinerja, dukungan politik dan kompetensinya. Dengan tujuh indikator, yakni komunikasi, perencanaan, serapan anggaran, capaian kinerja, latar belakang pendidikan, pengalaman dan dukungan politik.

"Menteri Rini dari kalangan profesional dalam arti bukan anggota partai politik dari segi dukungan politik dan capaian kinerja buruk," kata Ismail Hasani, Direktur Riset Setara Institute.

Menurut Ismail, kegaduhan politik tak jelas yang ditimbulkan Rini membuat penilaian terhadapnya rendah. Sebut saja konfliknya dengan Menteri Kemaritiman Rizal Ramli dan keterlibatannya dalam kasus Pelindo II pimpinan RJ Lino.

Menteri non parpol lainnya dari bidang ekonomi yang tidak menunjukkan kinerja memuaskan adalah Menteri Perdagangan Thomas Lembong. Selain tidak punya dukungan politik, sebagai pendatang baru ia juga kerap bersitegang dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

"Kegaduhan yang diciptakan Lembong sempat membuat kinerja kabinet terganggu. Apalagi, selain soal destabilitas kebijakan impor garam, ia juga melakukan impor beras yang justru kontra-produktif dengan gagasan swasembada pangan yang jadi prioritas Presiden Jokowi," terang Ismail.

Ada lagi, menko pendatang baru yang juga dinilai Setara Institute sebagai orang dari kalangan profesional yang mumpuni tetapi menjabat di waktu yang tidak tepat. Dia adalah Menko Perekonomian Darmin Nasution.

"Darmin bersama Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro belum lulus ujian dalam hal menjaga nilai tukar rupiah dan memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia," tukasnya.

Berbagai paket kebijakan ekonomi dari jilid I-VI masih belum menunjukkan hasil. Jikapun ada pengaruh pada penguatan rupiah, hal itu disebabkan karena faktor eksternal, dimana Bank Sentral Amerika masih belum meningkatkan suku bunga dalam negerinya.

"Istilahnya, mereka ini kurang bertangan dingin lah," cetusnya ketika dihubungi Okezone melalui telepon pada Minggu (15/11/2015).

Namun begitu, Setara Institute juga berharap dalam Reshuffle II nanti, Presiden mau meluangkan perhatian khusus pada menteri-menteri non parpol. Terutama kepada aspek-aspek yang menjadi catatan buruk 3 menteri non parpol yang masuk dalam peringkat 10 terbaik, yakni Susi Pudjiastuti, Mendikbud Anies Baswedan dan Menlu Retno LP Marsudi.

Catatan: Hasil Liputan yang Tidak Dimuat

No comments:

Post a Comment