Labels

Sunday, December 28, 2014

Novel Korea [Terjemahan]: 18 vs 29

18 vs 29
Kiri: Novel Terbitan Qanita
Kanan: Serial TV
Judul: 열여덟 스물아홉 (18 vs 29)
Penulis: Ji Su-Hyun
Cetakan: Ketiga, Oktober 2013
Tebal: 314 halaman
ISBN: 978-602-9225-85-3
Penerbit: Qanita [PT Mizan Pustaka]

Setelah menikah 2 tahun, tiba-tiba saja Yoo Hye Chan meminta cerai dari suaminya, Kang Sang Yeong. Alasannya sederhana, karena ia muak dikatai sebagai penyihir. Julukan yang ia dapatkan gara-gara popularitas suaminya sebagai aktor tampan nomor wahid di Korea Selatan. 

Sang Yeong sendiri kebingungan akibat ulah istrinya. Bagaimanapun alasan Hye Chan tidak masuk akal baginya. Namun Hye Chan tetap berkeras ingin pisah, bahkan ingin melupakan namanya.

Dalam perjalanan menuju pengadilan, Hye Chan menyetir sambil membayangkan masa lalunya dengan Sang Yeong. Sampai tiba-tiba seorang anak kecil lewat di depan mobilnya. "Astaga!" Hye Chan berusaha membanting setir. Ia bersyukur peristiwa itu dapat dihindari. Tapi sayang, ia tidak dapat menghindari pohon besar di ujung jalan. 

"Apa kau bisa hidup tanpaku?" itulah kata terakhir Sang Yeong yang terngiang di benak Hye Chan sebelum ia hilang kesadaran sepenuhnya.  (hlm. 15)

Kala itu Sang Yeong sedang syuting. Teleponnya berdering. Tak lama setelah mengangkat telepon, wajah Sang Yeong menjadi tegang. Kemudian Sang Yeong pergi meninggalkan lokasi syuting begitu saja. Ia berlari mencegat taksi segera setelah mendengar Hye Won, adik iparnya mengabarkan bahwa kakaknya kecelakaan.

Sesampainya di rumah sakit, Sang Yeong kesal melihat Hye Chan tidur dengan pulas. Dia merasa seperti orang bodoh karena sudah meninggalkan lokasi syuting dan berlari secepat kilat ke rumah sakit. Rasanya ia ingin membangunkan istrinya yang sedang mendengkur itu. Namun, Hye Chan siuman sebelum ia sempat melakukannya. (hlm. 17)

Ketika istrinya bangun, alih-alih marah mendengar setiap ocehan ketus Sang Yeong. Hye Chan memandanginya dengan wajah bodoh dan berkata, "Maaf, Paman ini Siapa ya?"

***


Diadaptasi dari novel internet "4321 Days We Shared", novel ini mengisahkan tentang kehidupan pernikahan Hye Chan dan Sang Yeong yang tengah kandas. Namun sebuah kecelakaan yang merenggut 11 tahun terakhir ingatan Hye Chan membuka kesempatan untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka.

Pada tahun 2005, novel ini sudah difilmkan dengan judul yang sama (18 vs 29). Yoo Hye Chan dimainkan oleh aktris Park Sun Young. Sementara Kang Sang Yeong dimainkan oleh aktor Ryu Soo Young. Dengan beberapa perubahan alur cerita di sana-sini.

Drama komedi percintaan semacam ini memang menjadi andalan Korea Selatan. Alur cerita sehari-hari yang dikisahkan secara dangkal kalau dibandingkan dengan literatur sastra. Dimana permasalahan diselesaikan dengan amnesia, melupakan kejadian buruk untuk kemudian rekonsiliasi dengan orang yang dibenci. 

Alur cerita mudah ditebak, walau ada sedikit kejutan di akhir cerita soal jati diri Ji Won. Aktris cantik yang terang-terangan menempel pada Sang Yeong, meskipun ia tahu pria pujaannya itu sudah menikah. Beberapa adegan terkesan terlalu didramatisir alias tidak masuk akal. Bisa jadi karena penggambaran latar tempat kurang deskriptif.

Versi dramanya menyajikan alur yang lebih logis. Bagaimana kisah tidak hanya berputar pada perbaikan hubungan pernikahan Sang Yeong dan Hye Chan. Kisah sampingan yang realitis seperti daya pikir Hye Chan yang kekanak-kanakan, tagihan utang yang perlu dibayar Hye Chan -yang tentunya tidak sanggup ia bayar, karena merasa masih 18 tahun dan belum bisa mencari uang. Ada juga momen ketika Hye Chan sangat terkejut dan sedih saat mengetahui bahwa ibunya sudah meninggal. Bagaimana orang-orang disekitar memandangnya. Bagaimana gadis 18 tahun memantaskan diri dan bersosialiasi dengan orang-orang yang lebih tua darinya? Perbedaan teknologi antara tahun 90-an dan era milenium yang harus Hye Chan hadapi, serta pekerjaan Sang Yeong sebagai aktor yang terbengkalai demi menjaga sang istri yang hilang ingatan, semua celah ini lebih tergambar nyata dalam versi dramanya. Penulis sayangnya kurang mampu menggali sisi-sisi menarik dari situasi unik yang dialami tokoh utamanya.

Namun, patut diakui bahwa penokohan dalam novel jauh lebih kuat dan konsisten dibanding serial TV-nya. Terutama sangat terlihat pada karakter Sang Yeong atau Kang Bong Man (di serial TV), yang mana karakter cool-nya lebih mengena di novel daripada serial TV. Pengemasan tokoh-tokoh dalam novel cenderung sederhana, hampir semua karakter berwatak protagonis. Berbeda dengan versi dramanya yang memuat lebih banyak konflik.

Naruto Sad Soundtrack Collection [COMPLETE]



One hour Full Instrumental
yang asyik didengarkan saat menghayati kesedihan, kepedihan dan kesendirian. Selamat bersedih-ria, kawan.

Friday, December 26, 2014

Jalan Kebahagiaan Buddha a.l.a. Bule Monk Ajahn Brahm

Cover Buku Horeee! Guru Si Cacing Datang
Judul: Horeee! Guru Si Cacing Datang
Penulis: Hendra Widjaja
Cetakan: Pertama, Januari 2010
Tebal: xiii+367 halaman
ISBN: 978-602-8194-37-2
Penerbit: Awareness Publication
 

Jika Anda pernah membaca buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya", Anda pasti tidak asing lagi dengan sosok bhikkhu bule bernama Ajahn Brahm. Kali ini ia hadir dalam buku Horeee! Guru Si Cacing Datang. Namun bukan sebagai penulisnya, melainkan sebagai tokoh sentral yang kunjungan ceramah dhammanya dijadikan tauladan.

Hendra Widjaja dalam buku ini berperan sekaligus sebagai panitia penerjemah selama kunjungan Ajahn Brahm dalam Tour de Indonesia 2009. Dengan memanfaatkan catatan ceramah Ajahn Brahm selama 8 hari kunjungannya di 6 kota di Indonesia, Hendra Widjaja mengupas tuntas sosok Spiritual Buddhist ini dari dekat. Tentunya dengan segala ketauladanan beliau.

Buku ini dibuka dengan kumpulan lelucon dan cerita favorit yang acapkali digunakan Ajahn Brahm selama membawakan ceramah dalam acara Tour de Indonesia 2009 ini. Antara lain kisah tentang perempuan yang mengalami derita perempuan menikah dan saudarinya yang mengalami derita perempuan lajang. Karena mereka sedemikian tidak puas dengan kondisi masing-masing, Ajahn bergurau dan meminta mereka "Tukar Posisi Saja." (hlm. 7) Ia juga senang mengambil perumpamaan "Ayam atau Bebek?" bagi pasangan yang sering mempertengkarkan hal-hal yang sepele. Bunyinya "kwek...kwek..kwekk.." belum tentu bebek. Bisa saja itu ayam yang dimodifikasi secara genetik. Jadi, jangan menganggap diri selalu benar. Dengan demikian kita bisa hidup bersama dengan bahagia tanpa mempertengkarkan hal-hal yang sepele. Itulah maksudnya pernikahan, kita belajar untuk hidup rukun dan damai. (hlm. 19)

Selanjutnya, bab-bab dalam buku ini dibuat secara kronologis mulai dari hari kedatangan Ajahn Brahm di Jakarta (hari ke-1), ceramah di Palembang (hari ke-2), Sukabumi (hari ke-3), Jakarta (hari ke-4), Medan (hari ke-5), Surabaya (hari ke-6), dan Denpasar (hari ke-7) sampai hari kepulangan Ajahn Brahm (hari ke-8).

Sinopsis
Rangkaian acara ceramah Dhamma Si Guru Cacing di Indonesia diadakan sejak 25 Februari sampai 4 Maret 2009. Kunjungan dhamma Ajahn Brahm sekaligus terkait peluncuran buku barunya yang berjudul "Hidup Senang Mati Tenang". Buku ini berisi kumpulan ceramah dan tanya jawab dengan beliau dari seluruh penjuru Bumi. Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh penerbit Ehipassiko.

25 Februari 2009, hari pertama kedatangan Ajahn Brahm disambut dengan antusias oleh Ashoka, Handaka dan Edy selaku panitia penyelenggara acara, sampai-sampai mereka lupa untuk berfoto. Bagi Ajahn Brahmavāṃso Mahathera, ini adalah kali ketiga kedatangannya ke Indonesia sekaligus yang terlama. Sementara bagi panitia, ini adalah kali pertama mereka menerima kedatangan sang bhikkhu sehingga persiapannya terasa agak kikuk. Contohnya ketika esok paginya Handaka menanyakan, "apakah semalam Ajahn Brahm tidur dengan nyenyak?" Di luar dugaan, Ajahn Brahm menjawab, "no..." Jawaban itu mengejutkan Handaka. Ketika ditanya alasannya, ternyata karena suara jam dinding di rumah Pak Karim yang terus berdetak tepat di balik dinding kamar Ajahn Brahm. Maklum, wihara hutan Ajahn Brahm di Perth memang sunyi dan bebas suara. Jadilah beliau sangat sensitif terhadap suara. (hlm. 25-26)

26 Februari 2009, pada hari kedua ini, Ajahn Brahm terbang ke Palembang. Selain untuk berceramah dhamma, bhikkhu pemilik nama asli Peter Betts ini juga dijadwalkan untuk membesuk Bhante Vajragiri dan memenuhi undangan wawancara Majalah Gema Dharmakirti. Melalui kisah di hari kedua ini, panitia mulai menyadari bahwa Ajahn Brahm ternyata sosok yang humoris. Contohnya saat membesuk Banthe Vajra, Ajahn Brahm menanyakan apakah Bhante Vajra tahu bedanya kangguru Kristen dan kangguru Buddha? Banthe Vajra pun menggeleng. Sambil menahan tawa, Ajahn Brahm menjawab, "kangguru Kristen itu seperti ini," seraya sambil menekuk kedua lengan dan tangannya di depan dada menirukan postur kangguru. "Tapi, kangguru Buddha itu seperti ini," katanya sambil mengatupkan kedua tangannya dalam sikap añjali. Otomatis orang-orang yang mendengarnya tertawa terpingkal-pingkal. (hlm. 35-36)

27 Februari 2009, dalam perjalanan ke Sukabumi terlihat sebuah foto Ajahn Brahm yang tengah mempromosikan menu makanan Sunda. (hlm. 88) Ajahn Brahm memang tidak pernah menolak untuk di foto. Sosok, yang menurut penulis selalu berusaha menyenangkan orang lain semampunya. Bahkan dalam setiap sesi tanda tanganpun, ia tidak pernah mengeluh dan selalu menunjukkan senyum khasnya, senyum lebar dua jari. 

28 Februari 2009, Ajahn Brahm kembali ke Jakarta. Umat yang datang untuk mendengarkan ceramah Ajahn membeludak, sampai-sampai ceramahnya diadakan dua kali. Siang hari di Plaza Sentral, Markas Besar BFI (Buddhist Fellowship Indonesia) dan malam harinya di The Golf, Pantai Indah Kapuk. Seperti yang sudah-sudah, Beliau memperkenalkan agama Buddha sebagai agama kebahagiaan. Dalam kisahnya tentang "Survei Agama di Swedia", Ajahn Brahm menjelaskan bagaimana agama Buddha ini menjadi populer di dunia barat. Agama Buddha, menurutnya sama dengan ilmu psikologi hebat. Melalui kisah "Memengaruhi Orang Tanpa Ketahuan", Ajahn Brahm menjamin bahwa umat Buddha tidak perlu khawatir. Dalam bisnis maupun hidup, jika kita benar-benar tahu cara untuk bijaksana, cara memanfaatkan psikologi dan kebaikan, kita akan terperanjat akan betapa luar biasanya kita bisa berhasil. Demikian tegas murid kenamaan dari Bhikkhu Thailand Ajahn Chah ini.

1 Maret 2009, keluarga Pak Karim sekali lagi mengantarkan Ajahn Brahm beserta panitia ke Bandara Soekarno-Hatta. Kali ini untuk kunjungan dhamma ke Medan. Dalam kesempatan ini, Ajahn Brahm kembali menegaskan bahwa inti ajaran Buddha adalah 4 kebenaran mulia. Keempat kebenaran mulia yang dimaksud ialah penderitaan, sumber penderitaan, berakhirnya penderitaan dan jalan menuju berakhirnya penderitaan. Namun sayang, jika pengajaran inti agama Buddha dimulai dari kata "penderitaan", orang-orang menjadi tidak tertarik untuk mendengarkan. Jadi, pengajaran inti agama Buddha ini dibalik urutannya oleh Ajahn Brahm. Dimulai dari Kebenaran Mulia ketiga, yakni berakhirnya penderitaan, yang dengan kata lain berarti kebahagiaan. Dilanjutkan dengan sumber kebahagiaan (Kebenaran Mulia kedua), faktor-faktor penyebab kita terkadang tidak bahagia (Kebenaran Pertama), terkahir adalah sumber ketidakbahagiaan kita (Kebenaran kedua). "Sistem pengajaran semacam ini di Australia kita sebut sebagai teknik pemasaran (marketing)," tutur Ajahn Brahm. (hlm. 227)

2 Maret 2009 di Surabaya, Ajahn Brahm mengenalkan meditasi sebagai jalan kebahagiaan. Agar mudah dimengerti, Ajahn Brahm mengajarkan meditasi seperti ini. "Saya mengangkat segelas air dan berkata, "seberapa beratnya segelas air ini?" Semakin lama saya pegang, semakin berat rasanya. Kalau saya memegangnya terus menerus selama 5 menit, lengan saya mulai pegal. Kalau saya pegang terus menerus selama 10 menit, saya mulai merasa kesakitan. Kalau saya pegang terus-menerus selama setengah jam, saya akan kesakitan sekali, sekaligus menjadi seorang bhikkhu yang sangat dungu! Jadi kalau sudah terasa terlalu berat, apa yang perlu dilakukan? Letakkan saja! Benar, itulah meditasi: taruh, letakkan. Masalah tidak perlu kita buang, letakkan saja selama beberapa menit. Dan 2-3 menit kemudian, ketika kita angkat lagi rasanya lebih ringan." (hlm. 265-266)

Menurut Ajahn Brahm, meditasi intinya adalah melepas. "Yang paling penting dalam meditasi bukanlah objek meditasi itu sendiri. Tidak penting apakah kita bermeditasi terhadap napas di dalam tubuh kita, terhadap kembang-kempisnya perut, melakukan satipaṭhāna. ... Anda jangan bermeditasi untuk memperoleh sesuatu. Anda bermeditasi untuk melepas. Bukan untuk memegang lebih banyak hal, untuk mendapatkan lebih banyak masalah, tetapi untuk meletakkannya, untuk melepas." (hlm. 276)

Yang kedua, tambahnya, "Anda harus bermeditasi dengan kebaikan bukan dengan niat buruk. Yang ketiga, bermeditasilah dengan lembut. Banyak orang bermeditasi sambil berperang dengan batinnya. Mereka sangat agresif, berusaha untuk menaklukkan pikirannya sendiri. Kekerasan seperti ini tidak ada sangkut pautnya dengan ajaran Buddha. Jadi, bersikaplah lembut seperti Buddha." (hlm. 276)

Ceramah Dhamma terakhir Bhikkhu yang senang bergurau, "I'm bule monk, I prefer bule food" ini diadakan di Denpasar, Bali. Tiba di Bandara Ngurah Rai, Handaka berkomentar pada Ajahn Brahm, "Ini adalah Pulau Bali yang dikenal juga sebagai Pulau Dewata." Ajahn Brahm menukas, "Bukan, ini adalah Pulau Brahma, pulau Brahmavāṃso. Ha-ha-ha..." (hlm. 285)

Di samping catatan perjalanan dan ceramah dhamma Ajahn Brahm, buku ini juga menyajikan kesimpulan dari kesantunan perilaku dan perkataan sang bhikkhu menurut pengamatan penulis dalam bab Trivia. Mulai dari lelucon khas Ajahn Brahm, kata "very good" yang selalu ia ucapkan, senyum lebar dua jari dan kebiasaan-kebiasaan Ajahn Brahm terangkum jelas dalam Trivia. Selain itu, penulis juga memuat tentang suka duka, kualifikasi serta tips dan trik menjadi penerjemah sebagai bahan evaluasi kepanitiaan Tour de Indonesia mendatang.

Secara keseluruhan, buku ini disajikan dengan penyusunan yang apik atas setiap subbab-nya. Untuk menghindari pengulangan, misalnya, lelucon dan kisah favorit ditaruh lebih awal. Sesi tanya jawab yang berupa dialog juga disajikan secara gamblang, sesuai dengan sub tema ceramah. Menarik rasanya bagaimana sosok yang sedang digandrungi peminat buku Buddhist ini diceritakan secara rinci berdasarkan kebiasaan, respon dan cara interaksinya di luar ceramah. Di samping itu, sesi tanya jawab yang bukan saja berasal dari peserta tetapi juga dari panitia, juga menjadi masukan, dorongan dan pengajaran yang berharga bagi umat Buddha yang membacanya.

Bahasa penulisan yang terlalu santai, sayangnya mengurangi nilai kebakuan buku ini. Seolah buku ini hanya ditujukan bagi pembaca muda. Isi ceramah Dhamma yang dikisahkan berulang-ulang juga terasa agak membosankan. Dan bagaimanapun, kental sekali terasa kekaguman penulis terhadap tokoh yang diceritakan, sehingga mengurangi aspek objektivitas penulis. Namun begitu, penulis sudah menyajikan catatan yang jujur dan terbuka mengenai kepanitiaan dan kisah dibalik layar roadshow Ajahn Brahm di Indonesia.

Friday, November 28, 2014

The One and Only: Conteen Magazine



Majalah di atas merupakan produk dari tugas kelompok pada mata kuliah Produksi Media Cetak di FIKom Untar. Conteen (Communication for Teens) Magazine ditujukan bagi pembaca yang tertarik pada dunia komunikasi. Khususnya, majalah ini ditujukan bagi anggota keluarga besar FIKom Untar.

Terima kasih kepada:
  1. seluruh anggota kelompok sekaligus redaksi Conteen atas semangat dan kerja samanya;
  2. para narasumber yang telah bersedia meluangkan waktu dan wajahnya untuk bahan produksi majalah ini;
  3. Jamed yang telah membantu merancang cover majalah kami;
  4. Bapak Farid Rusdi selaku dosen mata kuliah yang menugaskan pembuatan majalah ini; dan
  5. para kerabat yang telah membantu, mendukung dan mendampingi sampai tugas ini rampung.
Akhir kata, selamat membaca dan berkomentar.

Salam,
Toserbu.

Saturday, November 22, 2014

OPINI: GONJANG-GANJING KOLOM AGAMA


Akhir-akhir ini orang sibuk memusingkan urusan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Mendagri Tjahjo Kumolo dan Menag Lukman Hakim menyatakan sepakat membolehkan kolom agama dikosongkan. Bagi WNI yang menganut keyakinan di luar 6 agama yang diakui di Indonesia katanya boleh dikosongkan pada kolom KTP tetapi tetap didata oleh database pemda. Bagaimana kebijakan pastinya, hingga kini belum diratifikasi secara resmi. 

Pro dan kontra soal agama terus bergulir. Pasalnya, negara ini bukan negara sekuler seperti Prancis misalnya yang memisahkan urusan pemerintahan dan agama. Kalau ditanya apakah negara ini negara agamis? Hmmph…jelas bukan. Negara ini katanya negara pancasila. Apa pula itu artinya? 

Telaah Pancasila
Sila pertama menyatakan, Ketuhanan Yang Maha Esa. Apakah negara kita lantas menjadi negara ketuhanan? Bagaimana dengan mereka yang merasa dan menyatakan diri tidak bertuhan? Sila kedua berkata, kemanusiaan yang adil dan beradab. Manusia mana yang dibahas? Seluruh lapisan masyarakat atau pemerintah atau keduanya? Adil juga adil yang bagaimana? Apa ukurannya? Soal agama bagaimana ukuran adil dan beradabnya? Katanya agama itu identitas seseorang. Seseorang yang pasti manusia kan? Jadi dimana letak keadilan yang dimaksud bagi warga negara yang merasa diri tidak bertuhan dan memiliki agama atau kepercayaan di luar 6 agama yang diakui negara ini?

Sila ketiga, persatuan Indonesia. Sangat mulia sila ketiga ini. Dasar negara yang berisi harapan mulia, kesatuan di atas kemajemukan bangsa ini. Ditegaskan juga dalam TAP MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa atau butir pengamalan pancasila bahwa persatuan Indonesia berarti menempatkan kesatuan dan persatuan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Pertanyaannya, apa moda yang mempersatukan bangsa ini? Haruskah monotheisme yang jadi moda pemersatu bangsa ini? Lalu kalau begitu mengapa dulu sila pertama dalam Piagam Jakarta diubah? Sekali lagi saya mempertanyakan, negara Pancasila kah kita atau negara agamis?

Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Rakyat itu butuh kebijaksanaan Anda-Anda semua, para wakil rakyat, pemerintah yang terhormat. Jadi tolonglah, bijak-bijak memutuskan sesuai aspirasi rakyat. Bermusyawarah selayaknya, yakni dengan akal sehat dan hati nurani. Jangan menyatakan “masyarakat sudah cerdas” sebagai jargon belaka. Mewakili tidak hanya kaum kapitalis, pun bertindak bagi masyarakat minoritas.

Sila terakhir, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lagi-lagi pancasila menegaskan perihal keadilan. Sedemikian pentingkah makna keadilan sehingga dimuat dalam 2 sila sekaligus? Dan keadilan di sini, tidak hanya soal individu. Tetapi lebih dari itu, keadilan sosial, yakni keadilan bagi masyarakat. Keadilan bagi orang banyak, bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk kepentingan golongan apalagi individu. Jadi ingat kata Pram, “adil lah sejak dalam pikiran.” Sudahkah hukum negara ini merealisasikan nilai-nilai luhur Pancasila? Akankah kebijakan pengosongan kolom agama itu adil, bijaksana dan mewakili kepentingan seluruh rakyat Indonesia? 

Pernikahan Beda Agama
Bagaimanapun, kebijakan pemerintah untuk membolehkan pengosongan kolom agama rasanya cukup menjadi angin segar bagi penganut agama minoritas. Namun permasalahannya tidak sesederhana itu. Amboi, urusan agama akhirnya tidak lagi jadi soal. Lalu apakah otomatis administrasi lainnya juga ikut beres? Pertanyaan terbesar adalah, apakah dengan dibolehkannya kolom agama di KTP kemudian menjadikan pernikahan beda agama legal?

Masih segar rasanya diingatan, tentang adanya alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang melayangkan uji materi UU Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi. Seorang mahasiswi dan 3 alumni itu meminta MK melegalkan pernikahan beda agama. Sebab musabab, UU tersebut dianggap menyalahi UU Kebebasan Berkeyakinan dan sila kesatu Pancasila Ketuhanan yang maha Esa. Selain itu, keempat mahasiswa FH itu juga menyangsikan diksi UU Perkawinan pasal 2 ayat (1) Nomor 1 Tahun 1974 yang menyatakan perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Penggunaan kata ganti orang ketiga “-nya” diklaim berpotensi multitafsir. Mereka meminta agar kata ganti orang ketiga tersebut direvisi menjadi “agama dan keyakinan mempelai.” Harapannya, revisi tersebut menutup jalur intervensi pihak ketiga.

Dalam taraf kehidupan sosial pun seringkali menyulitkan. Pertama-tama sudah pasti soal pencatatan sipil. Kedua, tentang pengesahan pernikahan. Bagi pasangan yang mampu, mereka bisa dengan mudah melenggang ke luar negeri. Sebut saja Australia untuk mengesahkan janji suci mereka. Namun bagaimana dengan pasangan yang tidak semampu itu untuk terbang ke negara asing? Apakah mereka pantas dibiarkan saja kumpul kebo atau mengorbankan salah satu keyakinan dan menjadi hipokrit?

Hubungan rumah tangga yang seharusnya didasari rasa cinta kasih dengan demikian terpaksa diselimuti kemunafikan akibat batasan hukum. Hukum yang seharusnya dibuat untuk manusia, bukan sebaliknya.

Bicara soal agama memang isu yang sangat sensitif. Namun, perlu saya tegaskan bahwa bicara soal pernikahan adalah isu yang bagi agama manapun pasti sakral. Ditentukan oleh Tuhan bukan manusia. Kedua, pernikahan adalah ranah privat, pribadi antar pribadi. Mengapa pula negara perlu mencampuri urusan kamar orang? Ketiga, walaupun bukan negara sekuler, para pemangku kebijakan sepatutnya mengingat bahwa ada enam agama yang diakui di Indonesia. Jangan hanya berpatokan pada satu ajaran agama saja. Keempat, kita perlu berpikir rasional. Kalau bicara soal hukum, maka kita bicara soal peran negara, kewajiban negara dan hak rakyat. Dengan demikian, perlu rasanya kita renungkan kembali dasar falsafah negara kita yang sedemikian luhur dirumuskan dan kembali kepada bertindak logis sesuai konstitusi yang berlaku.

Saturday, November 1, 2014

你不懂女人的脆弱

"你知不知道我爱你就像飞蛾扑向火
为什么你不懂女人的脆弱
你不懂一个女人对爱的执着"
-两个人的回忆一个人过 - 庄心妍-

NO IDEA
......................................
JUST LISTEN

Thursday, October 16, 2014

Newsletter -Kapita Selekta- "The Future of Communication"

Halaman 1

Halaman 2

Halaman 3


Halaman 4


DAFTAR PUSTAKA
Essra, Try Reza. 2014, 14 Oktober. Jakarta kota pintar, mungkinkah? <http://www.antaranews.com/berita/458568/jakarta-kota-pintar-mungkinkah?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=flybox>. [Akses 14 Oktober 2014]

___________________________. Indonesia butuh banyak ahli teknologi informasi. <http://www.antaranews.com/berita/458694/indonesia-butuh-banyak-ahli-teknologi-informasi?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter>. [Akses 14 Oktober 2014]

Fatir, Darwin. 2014, 14 Oktober. Anies: Perluasan akses internet penting. <http://www.antaranews.com/berita/458556/anies-perluasan-akses-internet-penting?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=flybox>. [Akses 14 Oktober 2014]

Khairany, Rr. Chornea. 2014, 13 Oktober. Jokowi-Zuckerberg bahas rencana perluasan akses internet. <http://www.antaranews.com/berita/458370/jokowi-zuckerberg-bahas-rencana-perluasan-akses-internet>. [Akses 14 Oktober 2014]

Nurcahyani, Ida. 2014, 13 Oktober. Jokowi: baru lima menit blusukan Zuckerberg capek. <http://www.antaranews.com/berita/458357/jokowi-baru-lima-menit-blusukan-zuckerberg-capek>. [Akses 14 Oktober 2014]

http://thenextweb.com/media/2012/07/15/whats-the-future-of-communication-lets-ask-the-experts/

http://www.nefosnews.com/post/pemilu-2014/jokowi-bertemu-bos-facebook-bantu-pemerintahan-di-bidang-internet

Wednesday, October 15, 2014

Mencari Jokowi Ganti Wakil Gubernur

Hmmph..ternyata Ahok belum bisa lepas dari sosok Jokowi, mantan superiornya di Balaikota. Lihat saja kriteria yang ia rekomendasikan untuk bisa terpilih sebagai wakilnya. Lagi-lagi adalah pemimpin yang bisa mengutamakan pedagang kaki lima daripada konglomerasi mall, yakni berpihak pada rakyat kecil. Ialah Djarot Saeful Hidayat, mantan walikota Blitar yang Ahok harapkan bersanding di kursi pelaminan nomor satu D.K.I. Jakarta.

Mengenal Djarot Saeful Hidayat
Djarot Saiful Hidayat
Pria berkumis dan berkacamata ini kelahiran Gorontalo, 30 Oktober 1955. Kancahnya di dunia politik tergolong matang. Tahun 1999-2000 dilantik sebagai Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah jawa Timur, pun Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan (2005-2010). Pernah juga beliau menjadi anggota DPR RI. Baru kemudian pada tahun 2000 hingga 2010, beliau terpilih sebagai walikota Blitar 2 periode. Dan berkat kebijakan beliau yang sangat membatasi pendirian gedung-gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan besar seperti mall, serta mengutamakan pedagang kaki lima sebagi penggerak roda perekonomian daerahnya lah, Djarot dianugerahi sejumlah penghargaan. Sebut saja diantaranya, Penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah pada tahun 2008, Penghargaan Terbaik Citizen's Charter Bidang Kesehatan, Anugerah Adipura dalam 3 tahun berturut-turut, yakni tahun 2006, 2007, dan 2008. Pada 22 Maret 2010, beliau juga mendapat Peringkat Pertama dalam penerapan E-Government di Jawa Timur.

Di samping menjadi politisi, beliau juga seorang dosen sekaligus guru besar. Bahkan pernah menjabat sebagai pembantu rektor 1 Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG), Surabaya pada 1997 sampai 1999. Latar belakang pendidikan beliau antara lain menempuh S1 Ilmu Administrasi (FIA) di Universitas Brawijaya (UNBRA), Malang pada tahun 1986; S2 Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta pada 1991 dan Universitas Amsterdam pada 2002.

Kemiripan dengan Joko Widodo
  1. Walikota selama 2 periode berturut-turut
  2. Kebijakan pro rakyat mengenai penertiban PKL dan minimalisasi mall
  3. Mengedepankan program E-Government
  4. Menata birokrasi
Kesamaan visi-misi inilah yang menjadi alasan Basuki Tjahja Purnama, atau yang akrab disapa Ahok, menghendaki sosok Djarot sebagai wakil gubernur yang pantas memimpin ibukota bersamanya. Sudah "sreg" istilahnya Ahok ini. 

"Kalau saya maunya orang yang jujur dan juga bekerja keras agar pembangunan bisa berjalan dengan baik. Tentunya dia juga harus punya rekam jejak yang jelas," ujar Ahok di Balaikota seperti yang dilansir dari Antaranews.com.

Ya, setuju, Pak! Cari yang pasti-pasti aja lah. Pasti bersih dan tegas. Jangan yang pasti korupsi. Ckckck...

Referensi:
Khairany, Rr. Chornea. 2014, 14 Oktober. Ahok inginkan sosok wagub pekerja keras, jujur, dapat rekomendasinya. <http://www.antaranews.com/berita/458670/ahok-inginkan-sosok-wagub-pekerja-keras-jujur-dapat-rekomendasinya>. [Akses 14 Oktober 2014]

Pratama, Giri Lingga Herta. 2014. Biografi: Djarot Saeful Hidayat.  <http://profil.merdeka.com/indonesia/d/djarot-saiful-hidayat/>. [Akses 14 Oktober 2014]

Tuesday, October 14, 2014

Grafis Media pada Majalah Gatra (Part 3)

Dalam kesempatan ini, majalah Gatra penulis pilih sebagai objek analisis grafis media pada majalah. Akibat dibredelnya majalah Tempo oleh Orde Baru, terbitlah majalah bentukan Orba bernama Gatra. Hinggi kini bisa kita lihat betapa banyak kemiripan desain grafis terutama pada bagian cover atau sampul depan majalah Gatra dan Tempo. Dan apabila diusut lagi, kedua majalah tersebut sama-sama meniru majalah TIME, majalah berita mingguan terkemuka di Amerika Serikat. 

Majalah Gatra merupakan majalah yang berafiliasi politik dan ekonomi. Pendiri Gatra ialah Bob Hasan, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI ke-25. Gatra diterbitkan setiap minggu sejak tahun 1994. Pada masa orde baru, majalah ini berafiliasi dekat dengan presiden saat itu, Soeharto. 

Majalah Gatra yang hendak diusut penulis dalam kesempatan ini yaitu majalah gatra edisi 10-16 Juli 2014. Tepatnya pada bagian sampul dibahas sekilas dan laporan utama pada halaman 12-15 yang merupakan satu rangkaian berita. 

Analisis Gatra
Kata Gatra dalam KBBI berarti wujud, sudut pandang, aspek; atau lingkungan tertentu dalam kalimat yang dapat ditempati oleh suatu unsur bahasa. Makna kata Gatra sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti calon makhluk, anggota tubuh. (http://www.organisasi.org/1970/01/arti-nama-gatra-kamus-nama-kata-dunia.html) Dalam pengertian Jawa, gatra berarti jumlah baris dalam tembang macapat. (Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Macapat)

Majalah Gatra edisi 10-16 Juli 2014
Kembali kepada desain grafis, Sampul Gatra pada edisi 10-16 Juli 2014 mengangkat isu keterpilihannya Presiden RI ketujuh Joko Widodo versi hitung cepat. Dalam sampulnya, digambarkan wajah Jokowi berpeci yang dibentuk dari kumpulan rakyat Indonesia yang tengah bersorak-sorai. Maksudnya jelas, Jokowi adalah presiden yang diinginkan rakyat dan ketika beliau terpilih, masyarakat berbahagia dalam pesta demokrasi Indonesia 2014. 

Rupa huruf yang digunakan menyerupai majalah sadurannya, Time dengan huruf kapital semua. Mulai dari judul atau brand majalah yang serba merah, menyimbolkan semangat, sampai kepada judul-judul artikel yang diusut dalam edisi tersebut. 

Penggunaan rupa huruf dengan font besar dan serif ini tepat karena positioning-nya sebagai majalah berita yang serius namun tetap menarik. Oleh karena itu digunakan huruf serif (huruf berkait). Dan font yang besar dengan huruf capital semua juga lebih memudahkan pembacaan dan daya tangkap huruf jelas. Demikian juga warna yang dipilih.  

Tema majalah “Presiden Pilihan Kita” diketik dengan warna merah (PRESIDEN) dan putih (PILIHAN KITA) melambangkan bendera kebangsasan, Sang Saka Merah Putih. 

Gambar Jokowi yang dipilih ialah foto berkerah putih dan berpeci. Kerah putih (white collar) dalam budaya barat digambarkan sebagai kaum elit, pekerja kelas atas, pekerja bersih dan bangsawan. Namun dalam hal ini, kerah atau kemeja putih ini adalah framing pengambilan sosok Jokowi yang putih, maksudnya berekam jejak bersih dan sederhana. Berpeci menyatakan bahwa ia adalah seorang muslim. Dan dari segi demografi, mayoritas masyarakat Indonesia memang beragama Islam. 

Majalah Gatra edisi 10-16 Juli 2014 halaman 12-13
Memasuki rubrik laporan utama, artikel di atas menunjukkan pemilihan huruf untuk judulnya adalah serif bold. Tidak menggunakan kait yang terkesan lebih luwes. Judul artikel diberi penegasan dengan menggunakan font paling besar, menggunakan warna hitam dan di-bold. Sementara penulisan rubrik laporan utama dan halaman pada pojok kiri ditulis menggunakan font yang lebih kecil dan berwarna merah karena merupakan warna khas majalahnya. 

Foto yang menjadi kekuatan visual berita diletakkan lebih dulu, berukuran besar hingga memakan satu sepertiga halaman. Tata letak demikian dimaksudkan untuk menarik perhatian dan memberi gambaran lebih serta mengomunikasikan pesan yang tidak bisa tergambarkan melalui tulisan atau akan kurang sedap jika dijelaskan melalui kata-kata. keterangan foto sudah tepat ditaruh di bawah foto. 

Lead atau teras berita ditulis di samping kanan foto dengan font yang lebih besar dari artikel namun lebih kecil dibanding judul. Kemudian penulisan artikel diawali huruf Wordcaps. Ini dimaksudkan agar lebih mudah dikenali sebagai kalimat awal dalam bacaan tersebut.

Mengenai spasi atau ruang putih, diberikan sudah cukup signifikan. Dengan spasi yang mudah dibaca dan menegaskan mana paragraf yang berbeda. River (sungai), yakni spasi yang terlalu lebar akibat perataan kiri-kanan tulisan (judgement) pada setiap kolomnya teratasi dengan baik. Dalam artian hanya ditemukan sedikit sekali river.

Majalah Gatra edisi 10-16 Juli 2014 halaman 14-15
Selanjutnya mengenai hasil pemilu juga tidak hanya disajikan melalui kata-kata. Melainkan dengan grafik sebaran (halaman 15 bawah) dan tabel (halaman 14 pojok kiri atas) di halaman berikutnya. Sayangnya, tampilan tabel dan grafik sebaran masih terkesan kaku. Tidak luwes sama sekali. Melihat tampilan demikian masih seperti membaca tampilan koran. Bedanya hanya ini lebih berwarna dan kualitas kertas jauh lebih bagus.
Untuk keberimbangan atau cover both side, disajikan pula gambar Prabowo saat di TPS pada halaman 14-15. Namun tetap, karena tokoh utamanya Jokowi, ia ditampilkan lebih dulu fotonya pada halaman 12-13, bersanding dengan pembinanya di partai banteng moncong putih Megawati Soekarno Putri dan wakil presidennya Jusuf Kalla.

Kesimpulan
Majalah Gatra merupakan majalah yang didasari ideologi politik dan ekonomi. Majalah bertipe demikian cenderung menunjukkan keseriusan. Sehingga kurang bereksperimen dalam perancangan grafis medianya. Dengan kata lain, majalah semacam ini cenderung bersifat kaku dan membosankan. Pengembangan rancangan visual yang lebih luwes sering kali diabaikan demi menekankan kesan serius. 

Bandingkan dengan majalah saingannya, Tempo yang lebih kreatif dalam memainkan ilustrasi. Tempo juga serius dan liputannya mendalam seputar pemerintahan, politik dan kebijakan. Namun mengapa Tempo tirasnya lebih besar?

Kelebihan suatu media untuk beromzet besar kunci utamanya adalah kredibilitas. Yang kedua, tampilan media. Tampilan media dengan dukungan desain grafis yang kreatif dan inovatif tentunya akan mampu mendongkrak nilai jual media tersebut.