Labels

Tuesday, October 14, 2014

Grafis Media pada Majalah (part 2)

William Addison Dwiggins
Kata Desain Grafis pertama kali digunakan pada tahun 1922 di sebuah esai berjudul New Kind of Printing Calls for New Design yang ditulis oleh William Addison Dwiggins, seorang desainer buku Amerika. Sementara, Raffe's Graphic Design, yang diterbitkan pada tahun 1927, dianggap sebagai buku pertama yang menggunakan istilah desain grafis pada judulnya. (Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Desain_grafis) 

Perkembangan desain grafis tidak dapat dipungkiri, jelas berkaitan erat dengan perkembangan media selain juga bergantung pada perkembangan teknologi desain. Pada mulanya, desain grafis diterapkan hanya pada media-media statis, yakni media cetak. (Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Desain_grafis) Berdasarkan sejarahnya, perkembangan desain grafis paling signifikan terjadi pada majalah. 

Desain grafis untuk majalah sangat berkembang sesudah masa perang di Amerika. Alexey Brodovitch, art director dari majalah Harper Bazaar, sejak 1934 sampai 1958, telah memelopori suatu pendekatan baru desain majalah. Ia menciptakan sebuah pengalaman persepsi yang mengalir (flowing perceptual experience) bagi pembaca majalahnya, yaitu dengan merancang variasi ukuran huruf dan imaji-imaji, alternatif page yang kompleks dengan layout sederhana berisi area besar ruang kosong (white space), dan menciptakan sebuah persepsi yang menyeluruh untuk gerak ritmis. Keindahan desain Brodovitch telah ditingkatkan oleh regu kolaborator Bazaar, termasuk oleh fotografer Richard Avedon.[1] 

Periode sehabis perang telah disebut sebagai “jaman keemasan” desain majalah, dimana para direktur seni termasuk Henry Wolf (pada majalah Esquire dan Harper Bazaar) dan Otto Storch (pada majalah Mccall) memperluas pendekatan imajinatif Brodovitch ke layout halaman majalah dengan format besar. Storch meyakini bahwa konsep, teks, huruf, dan imaji tidak dapat dipisahkan dalam desain editorial, dan ia menerapkan keyakinan ini pada halaman editorial majalah Mccall.[1] 

Seperti yang sudah disebutkan dalam latar belakang, ilmu desain grafis mencakup seni visual, tipografi, tata letak dan desain interaksi. Seni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dsb.); karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa; kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa). Visual berarti dapat dilihat dengan indera penglihatan (mata). Jadi, seni visual ialah suatu karya bernilai tinggi dari segi keindahan yang dapat dilihat oleh mata.

Tipografi atau tata huruf merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin. Dikenal pula seni tipografi, yaitu karya atau desain yang menggunakan pengaturan huruf sebagai elemen utama. Dalam seni tipografi, pengertian huruf sebagai lambang bunyi bisa diabaikan. (Wikipedia, 2014: http://id.wikipedia.org/wiki/Tipografi)

Prinsip-prinsip desain tipografi:
  • Legibility: tingkat kemudahan mata mengenali suatu karakter, rupa huruf atau tulisan tanpa harus bersusah payah. Prinsip ini ditentukan oleh kerumitan desain huruf, seperti penggunaan siripan, kontras goresan; penggunaan warna dan frekuensi pengamat menemui huruf tersebut dalam kehidupan sehari-hari
  • Readibility: tingkat kenyamanan atau kemudahan suatu susunan huruf saat dibaca, yang dipengaruhi oleh jenis huruf, ukuran, pengaturan (alur, spasi, kerning, perataan dan sebagainya), kontras warna terhadap latar belakang
Sumber: en.wikipedia.org
Klasifikasi rupa huruf berdasarkan sejarahnya, antara lain blackletter/old English/ textura (tulisan tangan gaya gothic di Jerman dan gaya celtic di Irlandia); humanis/venetian (tulisan tangan gaya romawi di Italia); rupa huruf serif seperti old style (huruf serif berupa metal type), transitional (rupa huruf serif atau rupa huruf raja), modern/didone, slab serif/egytian; sans serif (rupa huruf tanpa kait) seperti grotesque sans-serif, geometris sans-serif, dan humanis sans-serif; display/dekoratif (berukuran besar, biasa digunakan dalam dunia periklanan); script (tulisan tangan sambung) dan cursive (tulisan tangan tak sambung).

Sumber: urlaub-und-erlebnis.de
Selain itu ada juga klasifikasi yang berdasarkan bentuk rupa hurufnya:
  1. Roman, pada awalnya adalah kumpulan huruf kapital seperti yang biasa ditemui di pilar dan prasasti Romawi, namun kemudian definisinya berkembang menjadi seluruh huruf yang mempunyai ciri tegak dan didominasi garis lurus kaku.
  2. Serif, dengan ciri memiliki siripan di ujungnya. Selain membantu keterbacaan, siripan juga memudahkan saat huruf diukir ke batu.
  3. Egyptian, atau populer dengan sebutan slab serif. Cirinya adalah kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan adalah kokoh, kuat, kekar dan stabil
  4. Sans Serif, dengan ciri tanpa sirip/serif, dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer dan efisien.
  5. Script, merupakan goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.
  6. Miscellaneous, merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental. (Wikipedia, 2014: http://id.wikipedia.org/wiki/Tipografi)

Tata letak (layout) merupakan usaha untuk menyusun, menata, atau memadukan elemen-elemen atau unsur-unsur komunikasi grafis (teks, gambar, tabel, dll) guna menjadikan komunikasi visual yang komunikatif, estetik dan menarik. Tujuan utama layout adalah menampilkan elemen gambar dan teks agar menjadi komunikatif dalam sebuah cara yang dapat memudahkan pembaca menerima informasi yang disajikan. (Hakim, 2012: http://loekmanulkim.wordpress.com/2012/03/19/tata-letak-layout/)

Desain interaksi, yakni merancang produk interaktif untuk membantu manusia berkomunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Beberapa parameter yang dijadikan tolok ukur keberhasilan desain interaksi adalah usability dan user experience. Terkait desain grafis pada majalah, desain interaksi ialah suatu rancangan yang dapat memicu timbal balik dari pembacanya.

Dalam merancang grafis pada media statis, dalam hal ini majalah, perancang grafis memerlukan keahlian lain dalam memadu-padankan ideologi majalah dengan desain yang kreatif. Pada majalah-majalah remaja dan bertipe hiburan, desain grafis lebih banyak memukau dan berkembang secara estetika. Lain halnya dengan majalah berita, khususnya yang bergenre politik dan ekonomi. Oleh karena pembahasan politik mengacu pada regulasi atau aturan, kebijakan dan kepentingan publik, pembawaannya selalu serius. Sampai-sampai berpengaruh pada jenis penulisan, pemilihan huruf dan tata letak yang kaku.

Hal yang perlu diperhatikan pula dalam desain grafis pada majalah politik ialah kentalnya keberpihakan media. Hal ini yang tengah marah terjadi di Indonesia, khususnya terkait pemilihan presiden 2014. Agenda setting media menjadi tantangan utama bagi para perancang grafis. Bagi yang berpihak tapi sembunyi-sembunyi, mereka harus pandai-pandai menyarukan entah ilustrasi ataupun framing pengambilan foto kejadian. 

Denis McQuail mengutip definisi agenda setting sebagai proses dimana perhatian relatif diberikan kepada item atau isu dalam peliputan berita memengaruhi urutan peringkat dari kesadaran masyarakat mengenai masalah dan atribusi yang signifikan. Terdapat 2 asumsi mendasar mengenai pendekatan agenda setting media, yakni masyarakat pers dan media massa tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu, dan konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting dari pada isu-isu lain. Sementara yang dimaksudkan dengan framing ialah sebuah proses yang mana jurnalis, reporter, editor mengemas isu/kejadian menjadi sajian yang lebih menyentuh dan lebih menarik.

Referensi:
Marhanim A. Razak & Mohd. Shahrizal Dolah. (2007). Teks STPM Seni Visual. Selangor: Oxford Fajar.
Susilana, dkk. 2009. Media pembelajaran: hakikat, pengembangan, pemanfaatan dan penilaian. Bandung: CV Wacana Prima.
West, Richard; Lynn H. Turner. 2007. Pengantar teori komunikasi: analisis dan aplikasi edisi 3 buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.
Wikipedia. Desain grafis. <http://id.wikipedia.org/wiki/Desain_grafis>. [Akses 12 Oktober 2014].
________. 2014. Tipografi. http://id.wikipedia.org/wiki/Tipografi. 6 Mei 2014. [Akses 12 Oktober 2014].
[1] Couto, Nashbary. 2014. Perkembangan desain grafis 1945-1975 di Eropa dan Amerika dan pemikiran tokoh-tokohnya. 21 April 2014. <http://nasbahrygalleryedu.blogspot.com/2014/04/perkembangan-desain-grafis-1945-1975-di.html>. [Akses 12 Oktober 2014].

No comments:

Post a Comment