Labels

Saturday, December 14, 2013

Media dan Liputan Konflik


Foto: theviewspaper.net

Salah satu nilai berita yang menarik dan penting bagi khalayak ialah konflik. Konflik secara umum bersifat luas dan beragam latar belakangnya. Dalam jurnalistik, konflik yang dimaksud, yakni yang menjadi perebutan dominasi wacana; percecokan atau pertikaian yang melahirkan ketegangan sosial yang ditandai oleh meluasnya konflik pada sesuatu yang diperebutkan oleh pihak yang bertikai.

Wartawan merupakan garda terdepan yang akan memosisikan media dalam ranah pikiran publik. Hal tersebut sejalan dengan analisis framing dari Fairlough yang menyatakan bahwa pengalaman individu atau framing device yang akan menentukan bagaimana media memandang isu (Fairlough, 1997). Sejalan dengan itu pula, tidak heran bila jurnalis terkadang mengalami conflict of interest dalam penentuan lead dan angle liputan. Oleh karena itu, dalam meliput konflik, redaksi atau institusi media sebaiknya mengirim jurnalis yang mampu bersifat objektif dan terlepas dari konflik ketertarikan atau keberpihakan dalam suatu isu.

Praktiknya, jurnalis kesulitan meliput dari pelbagai sudut pandang dan konteks pemberitaan yang demikian beragam. Dengan demikian, untuk memudahkan penyajian suatu peliputan konflik, diperlukan agenda setting media yang tegas. Di mana realitas cenderung dikonstruksi secara sosial karena media prinsipnya ialah menceritakan kembali rangkaian peristiwa. Tahapan terkahir peliputan media mengenai suatu konflik diserahkan ke dalam kuasa gatekeeper.

Jurnalisme Damai
Guna meminimalisir pemberitaan media mengenai konflik yang destruktif, dibutuhkan pendekatan jurnalisme damai secara kooperatif. Jurnalisme damai ialah cara membingkai berita yang lebih luas, seimbang dan akurat menggambarkan analisa dan transformasi konflik. Pendekatan jurnalisme damai memberikan peta baru untuk menelusuri hubungan antara jurnalis, narasumber, cerita yang ia liput dan konsekuensi peliputan, termasuk di dalamnya, etika intervensi jurnalistik.

Pada tahun 1959, seorang veteran mediator damai asal Norwegia Profesor Johan Galtung membentuk dasar petunjuk praktis pertama mengenai Manual Jurnalisme Damai. Petunjuk praktis yang berisi hal-hal yang diperjuangkan jurnalis damai, yakni:
·         menghindari penggambaran konflik sebagai dua pihak yang memperebutkan satu tujuan, di mana hasil yang mungkin adalah pihak yang menang dan pihak yang kalah.
·         menghindari perbedaan antara diri sendiri dan orang lain, karena pemisahan tersebut cenderung memicu keabsurdan penilaian karakter kedua pihak yang tengah berkonflik.
·         hindari memperlakukan konflik sebagai sesuatu yang hanya terjadi di tempat dan waktu kekerasan terjadi. Sebaiknya, coba untuk menelusuri hubungan dan konsekuensi bagi orang di tempat lain pada saat itu dan di masa depan.

Konsep jurnalisme damai dikembangkan berdasarkan penawaran bahwa membekali reporter dengan keahlian resolusi konflik akan memungkinkan reporter tersebut menjadi professional yang lebih efektif. Orientasi jurnalisme damai ialah kemanusiaan, di mana konflik tidak hanya diwartakan sebagai sebuah peristiwa perang atau pertikaian, melainkan literasi non kekerasan yang menjadi tanggung jawab jurnalis mengenai konsekuensi pelaporan mereka.

Referensi: dari pelbagai sumber.

No comments:

Post a Comment