Labels

Tuesday, June 10, 2014

HATI-HATI BUKU BAJAKAN

Permintaan Konsumen Menghidupi Pembajak
Pasar Senen dan Kwitang, Jakarta Pusat nampak leluasa di pagi hari. Maklum, pukul 8 hingga 10 pagi memang masih waktu buka toko bagi para penjual di sini. Di antara rak-rak buku itu, para penjual sibuk berlalu lalang mengangkut kardus-kardus berisi buku. Kardus itu kemudian dibuka dan buku-bukunya dikeluarkan. Buku-buku popular seperti novel dan buku humor dipajang berderet di rak depan. Sementara buku-buku lain ditumpuk sesuai jenisnya. Novel-novel Indonesia ditumpuk berderet. Buku-buku kedokteran di deret lainnya. Kamus-kamus dan ensiklopedia di sisi satunya lagi. Sisi buku yang menyantumkan judul disusun menghadap luar guna memudahkan pencarian. 

Salah satu kios di Pasar Senen

Menjelang jam makan siang, kios-kios buku di Pasar Senen mulai padat disambangi pengunjung. Jangan heran jika Anda mendengar sambutan bertubi-tubi dari para penjual di Pasar Senen. Sepanjang jalan menyusuri Pasar Senen, baik yang di dalam gedung maupun di deret luar, pembeli yang lewat akan selalu diberondongi pertanyaan, “cari buku apa, mba? Novel, komik, buku kuliah?”

Di sinilah surga buku di Jakarta. Mulai dari novel, majalah, buku-buku pelajaran, buku perkuliahan, komik, buku-buku terjemahan sampai buku-buku langka yang sudah tidak diterbitkan ulang, hampir semua bisa dicari di sini. Akan tetapi, hati-hati karena tidak semua buku yang terpajang di sini berkualitas wahid atau asli dari penerbit.


Ya, Pasar Senen dan Kwitang yang letaknya berseberangan ini memang dikenal sebagai pusat penjualan buku bajakan di Jakarta. Buku bajakan yang paling banyak dijual antara lain buku-buku perguruan tinggi dan novel-novel penulis ternama. Sementara majalah dan komik yang dijual di sini mayoritas masih tergolong asli, namun merupakan buku bekas.


Harga-harga yang ditawarkan tentunya jauh lebih murah dibanding harga aslinya atau harga buku di toko buku besar. Jika di toko buku besar harganya Rp. 120.000,00; di Pasar Senen buku yang sama bisa didapatkan dengan harga sangat miring, sekitar Rp. 30.000,00 sampai Rp. 50.000,00. Akan tetapi, kualitas bukunya tidak dijamin ya. Kalau ada kerusakan pun tidak bisa diretur kembali seperti yang biasa dilayani penerbit utama.


Selain di Pasar Senen dan Kwitang, maraknya penjajakan buku bajakan secara terbuka juga bisa ditemui di daerah sekitar perguruan tinggi. “Hampir di semua kampus pernah kami sidak. Di Universitas Tarumanagara, Bina Nusantara, Mercu Buana, Trisakti, Universitas Indonesia, Universitas Islam Negeri,” ujar Kabid. Pembajakan Buku IKAPI Johnri Darma Sagar.


Antara Asli dan Bajakan


Pembaca buku sejati tentunya jeli membedakan mana yang buku asli dan mana yang buku bajakan. Selain warna sampul buku yang pudar, harga buku yang miring juga menjadi indikasi utama yang membedakan buku terbitan pembajak dan buku asli dari penerbit yang legal.


Buku hasil bajakan juga dapat dicermati dari kualitas kertas yang digunakan, kemiringan tulisannya, dan hasil penjilidannya yang kurang rapi. Jika diperhatikan, kadang cetakannya berkerut-kerut dan terdapat satu, dua atau lebih halaman yang hilang atau tercetak berulang.


Sesuai Undang-undang Hak Cipta No 19 Tahun 2002, sesungguhnya penjualan buku bajakan termasuk pelanggaran hukum. Pasal 72 ayat 2 Bab XIII Ketentuan Pidana menyatakan, barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).


Pada prinsipnya, para penjual ini tidak bermaksud menipu pembelinya. Mereka secara terang-terangan akan memberitahu bukunya bajakan atau asli. Dan untuk buku-buku asli biasanya akan dijual agak mahal. Walau tetap lebih murah dibanding di toko-toko buku besar.


Seorang penjual yang tidak ingin disebutkan namanya mengakui, bahwa penjual di sini ada yang sudah kerjasama dengan penerbit. Buku-buku kadang bisa dipesan di agen buku utama yang mereka sebut koperasi. Mengenai buku bajakan sendiri, biasanya mereka dapatkan dari agen-agen pembajak yang sewaktu-waktu datang menawarkan. Biasanya para agen pembajak ramai mengirimkan kurirnya menjelang tahun ajaran baru. 


“Waktu kedatangannya tidak tentu, Mba. Dan orangnya juga selalu ganti-ganti,” ujarnya.


Egy Kurniawan (29 tahun), salah seorang penjual buku di Pasar Senen mengatakan alasannya tetap menjual buku bajakan adalah murni karena kebutuhan pembeli. “Kan tidak semua orang mampu membeli buku penerbit, Mba. Apalagi mahasiswa, pasti nyarinya buku yang murah. Kami saja untung kadang cuma Rp.3000,00 per buku. Ya ambil saja.”


Kepala Bidang Pembajakan Buku IKAPI Johnri Darma Sagar pun mengakui bahwa memang setelah diberi penyuluhan dan sosialisasi, para penjual itu akhirnya tetap menyediakan buku bajakan karena mahasiswa lebih memilih buku yang murah.


Menurut keterangan Johnri, ketika diwawancarai di kantornya Salemba 4, Lenteng Agung, “sebenarnya harga buku itu sudah murah, karena kita sudah kasih diskon maksimal ke distributor sekitar 35-40%. Dengan harapan distributor akan menjual buku itu kembali dengan diskon 25% ke mahasiswa.”


Sayangnya, penegakan hukum yang lemah membuat aksi pembajakan buku tetap berjalan. Dewasa ini, pembajakan buku bahkan sudah merambah ke mall. Salah satunya Season City Mall yang terletak di Jalan Prof. Dr. Latumenten No. 33, Jakarta Barat. Jika diamati baik-baik, toko buku “Pasar Buku Murah” yang terletak di lantai GF1 Season City Mall ternyata menjajakan buku bajakan. Pantas saja, harga buku-bukunya demikian murah.


“Iya, saya kira ini buku retur kan. Makanya harganya murah. Ternyata pas buka plastiknya, isinya kayak kopian gitu.” tutur Nadia, pembeli yang merasa dirinya telah dikelabui.
Poster di Dirjen HKI lantai 4


Mengenai hal tersebut, Johnri Darma Sagar menyatakan jika sampai buku bajakan masuk ke mall, bisa jadi hal tersebut tanpa sepengetahuan penjualnya. “Jadi kalau ada bazaar, kadang-kadang itu kan bukan dari penerbit ya, (tetapi dari) toko buku atau distributor pembajak. Kadang-kadang mereka itu tidak tahu itu buku asli atau buku bajakan kalau mereka tidak cek satu-satu ke dalam isinya.”


“Kadang-kadang si penjual, oknum maksudnya, itu mengoplos. Dia beli buku asli 30, buku bajakannya 15 buah. Digabung, dijual dengan harga yang pricelist dari penerbit. Saya kira kan dia dapat untung yang besar kan. Karena sebagian dilihat sudah asli. Kadang-kadang ada 5 dus, dus satu sampai kedua asli, sisanya kopian.”


Ketika ditanya mengapa sindikat pembajakan buku ini terkesan dibiarkan, Johnri mengaku, “untuk membasmi secara habis kan susah, yang kami bisa terapkan hanya syok terapi-syok terapi. Pernah kita penjarakan. Tapi beberapa hari keluar lagi. Sayangnya, ya, penegak hukum juga lemah, kepolisian dan kejaksaannya masih bisa disuap ya.”


Bersaing dengan Kemajuan IPTEK


Jaman yang semakin maju membuat fisik buku asli dan bajakan semakin sulit dibedakan. “Sekarang kan bukan di-fotocopy lagi ya. Buku difoto-foto, scan, cetak langsung banyak. Jadi kadang-kadang mutunya bisa hampir sama.”


Johnri berkisah, pernah suatu kali ia berkunjung ke Kwitang dan melihat di rak-rak toko buku terpampang buku terbitan tempatnya bekerja, Penerbit Leksika. Buku yang terpajang bagus-bagus. Akan tetapi ia tahu bahwa toko buku ini tidak pernah membeli darinya.  Ketika diminta bukti faktur pembeliannya, si penjual tidak bisa menunjukkan.


Hal inilah yang terus dicari cara mengantisipasinya. Dengan adanya kemajuan teknologi, penerbit semakin dituntut untuk memutar otak, mencari akal untuk menyiasati pelanggaran hak cipta semacam ini. Salah satu siasat yang dilancarkan Penerbit Leksika misalnya, membuat hologram pada cover-cover buku terbitannya. Kemudian setiap buku juga dilengkapi dengan CD yang programnya hanya bisa dibaca, tidak bisa di-copy maupun dicetak.


Kesimpulan


Kebutuhan akan buku di Indonesia sesungguhnya besar, namun harga yang tinggi menurunkan minat beli konsumen. Harga buku yang tinggi bagaimanapun tidak sejalan dengan program pemerintah meningkatkan mutu pendidikan dan kecerdasan bangsa. Hal inilah yang dijadikan peluang meraup keuntungan bagi para pebisnis ulung. Kebutuhan masyarakat akan buku yang harganya kurang terjangkau menjadi celah aksi pembajakan.

No comments:

Post a Comment