Labels

Friday, December 30, 2011

Kebenaran Pembenaran

‘Baik belum tentu benar’, sering sekali kita mendengar kata ini. Namun benarkah? Benarkah baik itu belum tentu benar? 

Contoh sederhananya, ketika seorang teman menanyakan jawaban kita pada saat ulangan. Jika kita memberikannya, kita telah berbuat baik. Namun apakah kita secara otomatis berbuat benar? Ya, setidaknya teman tersebut pasti menganggap kita baik karena telah “membantunya”. Namun apakah perbuatan kita tersebut – sekali lagi – sudah benar? Sebagian orang bisa saja menjawab sudah, sedangkan sebagian lagi tidak sepakat.

Lalu sebenarnya apakah dasar tolok ukur yang menjadi patokan kebenaran yang sesungguhnya? Adakah kebenaran yang mutlak tersebut? 

Pertanyaan - pertanyaan macam itu bukan hal baru. Sejak jaman Yunani kuno, para filsuf – sebut saja Socrates, Plato dan Aristoteles – telah memikirkannya dan berusaha menemukan jawabannya. 
Menurut Socrates kebenaran didapat dengan banyak bertanya. Terus bertanya hingga tidak ditemukan lagi jawaban yang  bisa membantah merupakan kebenaran. Bagi Plato, kebenaran yang sejati ada di dunia ide. Lain lagi dengan Aristoteles, menurutnya kebenaran sejati adalah kebenaran yang inderawi.

Beberapa abad kemudian, timbul pemikiran – pemikiran baru tentang kebenaran dan metode pencapainnya. Dua kubu besar terbentuk, kaum Rasionalis dan Empiris. Mana yang benar, kebenaran yang ada dalam pikiran – pikiran manusia atau kebenaran yang dilihat secara nyata oleh mata manusia? 

Seiring dengan berjalannya waktu, berkembangnya jaman dan ilmu pengetahuan, cuma ada satu kebenaran yang nampak jelas, yaitu setiap metode ilmu pengetahuan manusia hanya mencari pembenaran sendiri seolah mendekati kebenaran.

Bagaimana menurutmu?

No comments:

Post a Comment