Labels

Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Saturday, February 15, 2014

FILOSOFI "i"

Mengapa huruf vokal akhiran "i" identik penggunaan katanya dengan perempuan?

Laki-laki: Dewa; Putra; Siswa; Mahasiswa; Wartawan; Pramugara
Perempuan: Dewi; Putri; Siswi; Mahasiswi; Wartawati; Pramugari

Doc. Google Image
Huruf "i" dikenal sebagai huruf Latin, yang merupakan modifikasi dari Bahasa Yunani dan sesungguhya merupakan penyempurnaan huruf Roman. Bahasa tulis Indonesia juga menggunakan huruf ini dengan padanan huruf yang memiliki makna berbeda.

Jika dibaca dalam Bahasa Indonesia secara pictograf, huruf "i" bisa dilihat sebagai "satu titik". Huruf kecil "i", sebagaimana kita biasa membedakan penyebutannya dengan huruf kapital "I", penulisannya menyerupai angka satu dengan titik di atasnya. Dan dalam pemikiran saya, hal ini menegaskan banyak hal yang berhubungan dengan identiknya penggunaan huruf vokal akhiran "i" dengan role model perempuan.

"i", satu titik, bermakna sumber, awal dari sebuah goresan membentuk goresan-goresan lainnya. "i", satu titik, ialah sebuah kelahiran, penciptaan utama dari segala tulisan. "i", satu titik adalah asal muasal sebuah pemaknaan dan pemahaman.

Demikian pula pada perempuan, "i" digunakan pada kata ibu, gelar yang disandangkan untuk sosok perempuan yang sudah melahirkan, Dari ibulah kehidupan manusia dimulai di dunia ini. Ibu juga sosok pengajar perempuan, ibu guru, sosok yang penuh dedikasi dan kasih sayang, mengajar mereka yang tak tahu menjadi tahu.

Akhiran "i" juga ada pada kata logi, seperti planologi, biologi, sosiologi, dan logi-logi lainnya. Agak bias ya? Akan tetapi, saya merasa bahwa padanan kata ini bukanlah kebetulan semata. Kata-kata ini disistem sedemikian rupa sehingga terkait begitu rupa. Dengan demikian "i", satu titik juga berarti sumber pengetahuan.

Dalam urutannya, huruf vokal alfabet "i" berada pada posisi kedua setelah "a", mungkin karena itulah huruf "i" menjadi pilihan untuk perempuan. Sebab pada masa pra-feminisme, sejarah berlarut-larut dalam budaya patriarkat. Dimana kedudukan laki-laki selalu yang utama, sementara perempuan berada pada posisi kedua, setelah laki-laki. 

Terkadang saya suka sekali padanan kata dalam Bahasa Indonesia, seperti suami-istri dan laki-bini dalam Bahasa Betawi. Sama-sama menunjukkan kesetaraan dalam hubungan rumah tangga.  Pria dan wanita. Walau wanita memiliki pengertian harafiah atau makna terminologi yang tidak menyenangkan bagi kaum feminisme. Feminis lebih menekankan pada kata perempuan, yang bermakna keagungan dibandingkan wanita yang bermakna pemuas nafsu semata.

Hahaha...entahlah, artikel ini boleh jadi hanya gurauan dan sekadar pemikiran remeh-temeh, bahkan celotehan ngawur dan takabur. Semua terserah Anda, karena seperti kata Aurelius, Kaisar Romawi, "setiap kata yang Anda dengar adalah opini, bukan fakta. Setiap apa yang Anda lihat adalah perspektif, bukan kebenaran."

Doc. Google Image

Tuesday, May 14, 2013

Merasa Hebat itu Kehancuran

Doc. erik-nac.blogspot.com
"Ketika kita merasa paling hebat dan paling bisa, pada saat itulah kita menjadi yang paling cupu dan remeh." -Toserbu.

Thursday, June 21, 2012

Dunia Ide Plato

Pemahaman tentang Manusia Goa

Digambarkan manusia (orang - orang awam) seperti manusia - manusia goa yang kaki - kakinya dipasung menghadap ke dinding. Di belakang mereka ada nyala api (sebagai cahaya). Setiap hari, mereka melihat hal - hal yang merupakan proyeksi aktivitas di luar yang dipantulkan oleh api tersebut ke dinding di hadapan mereka.

Suatu ketika, seorang datang dan membebaskan satu orang manusia goa. Ia dibawa ke dunia luar goa. Manusia goa itu melihat ada matahari, burung - burung, bunga - bunga yang cantik. Semua dilihatnya secara langsung. Inilah realitas dunia.

Setelah tahu fakta, ia kembali ke goa dan menceritakan realitas yang ia lihat. Manusia itu menjelaskan bahwa realitas yang selama ini mereka saksikan dari dinding goa hanya bayangan, proyeksi, bukan keadaaan sesungguhnya. Gambaran nyata ada di luar goa. Mendengar hal tersebut, teman - temannya menertawakannya dan mengatainya gila.

Sama seperti manusia - manusia goa di atas, kita sekarang hidup di dunia yang merupakan proyeksi dari suatu dunia yang lebih sempurna, yaitu dunia ide. Menurut Plato, segala hal yang ada di dunia ini hanya sekadar usaha manusia untuk mengimitasi dunia ide.

Manusia yang mengetahui fakta, seperti para filsuf, ketika mengabarkan hal tersebut cenderung tidak ditanggapi dan bahkan dianggap mabuk dan tidak waras. Seperti gurunya, Sokrates yang dianggap menyebarkan ajaran sesat.

Saturday, January 28, 2012

Quotes

Nalar akan membawa Anda dari A ke B, imajinasi membawa Anda ke mana saja.
-Albert Einstein.

Ada yang bilang
hidup itu... berawal dari huruf B (Birth=lahir) dan berakhir di D (Death=kematian).
Akan tetapi, di antara huruf B & D ada C (Choice=pilihan).
Hidup selalu menawarkan pilihan,

Tersenyum atau marah?
Memaafkan atau membalas?
Mencintai atau membenci?
Bersyukur atau mengeluh?
Berharap atau putus asa?
Setiap pilihan memiliki konsekuensi tersendiri.
Namun Tuhan selalu memberi yang terbaik.
Rencana kita boleh indah, tetapi rencana Tuhan yang TERINDAH.
Hidup kita mungkin baik - baik saja, tetapi hidup bersama-Nya lebih SEMPURNA.
Pekerjaan kita mungkin menjajikan, tetapi BERKAT-NYA lah yang menjadikan kita SUKSES.
Kekuatan tangan kita mungkin sanggup membawa kita menjadi orang hebat, tetapi BERSAMA-Nya kita menjadi LUAR BIASA.
Sebab Tuhan tidak hanya MENCUKUPI kebutuhan, melainkan MEMBERI dengan BERKELIMPAHAN.
Kita + Tuhan = LUAR BIASA.
- SMS dari seorang teman.

Wednesday, December 14, 2011

Quotes


Facilius est multa facere quam diu 

 It is easier to do many things than to do one for a long time. (Quintilianus)

Where you used to be, there is a hole in the world, which I find myself constantly walking around in the daytime, and falling in at night.  I miss you like hell. ~Edna St. Vincent Millay

Ask me why I keep on loving you when it’s clear that you don’t feel the same way for me… the problem is that as much as I can’t force you to love me, I can’t force myself to stop loving you. ~Author Unknown

Help me out from the deepest hole that you deep dig in to my heart. - ToSerbu.

I don’t know why they call it heartbreak.  It feels like every other part of my body is broken too.  ~Missy Altijd

Friday, December 2, 2011

Empirisme vs Rasionalisme


Empirisme
Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) dan dari kata experietia yang berarti “berpengalaman dalam”, “berkenalan dengan”, dan “terampil untuk”. Sementara menurut A.R. Lacey berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.


Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai Empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, bukan akal.

Aliran ini bermula dari penolakan mereka atas dominasi logika Cartesian di daratan Eropa saat itu. Di samping itu, gelora Renaissance di daratan Eropa menginspirasi Dataran Britania Raya sampai ada istilah sendiri yaitu Enlightment (pencerahan).

Tokoh – tokoh empirisme yang terkenal antara lain, Francis Bacon (1561–1626), Thomas Hobbes (1588 – 1679), John Locke (1632–1704), George Berkeley (1685–1753), dan David Hume (1711–1776). 

Empirisme adalah suatu aliran dalam metode ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman semata. Ilmu pengetahuan yang sejati adalah yang inderawi, yang terjadi dan ada secara nyata. Aristoteles (384-322 SM) adalah filsuf Yunani yang sudah terlebih dahulu menganut metode pengetahuan ini, jauh sebelum Francis Bacon, yang dikenal sebagai perintis empirisme. 

Aristoteles bertolak dari ajaran gurunya, Plato, yang menganut paham idealis – utopianis. Demikian juga Hobbes, Locke, Berkeley dan Hume, dalam hal mencetuskan metode berpengetahuan berdasar empirisme, bertentangan dengan metode rasionalisme, Rene Descartes. 

Menurut Bacon, metode yang benar ialah mengamat-amati alam semesta tanpa prasangka, setelah itu menetapkan fakta-fakta berdasarkan percobaan-percobaan yang berkali-kali dilakukan dengan cara yang bermacam-macam. Pemikirannya tersebut kemudian melahirkan metode ilmiah. Bacon juga beranggapan bahwa untuk mendapatkan kebenaran maka akal budi bertitik pangkal pada pengamatan inderawi yang khusus lalu berkembang kepada kesimpulan umum. Pemikiran Bacon yang demikian ini, kemudian melahirkan metode berpikir induksi.

Bacon telah meletakkan dasar-dasar bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat diusahakan melalui pengamatan, eksperimen-eksperimen dan penyusunan fakta-fakta. Bacon telah berhasil mempelopori di bidang metode penilitian sedangkan yang telah berhasil menyusun suatu sistem yang lengkap adalah Thomas Hobbes.

Ia berpangkal kepada eksperimen secara konsekuen. Sekalipun ia berpangkal pada dasar-dasar empiris, ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dengan rasionalisme dalam bentuk suatu filsafat materialistis yang konsekuen pada zaman modern. Materilisme yang dianut Hobbes yaitu bahwa segala yang ada bersifat bendawi. Bendawi yang dimaksud ialah segala sesuatu yang tidak tergantung kepada gagasan kita. Segala kejadian adalah gerak, yang berlangsung karena keharusan. Seluruh realitas bersifat bendawi, yaitu yang tidak tergantung kepada gagasan kita terhisap di dalam gerak itu. Dengan demikian maka pengertian substansi diubah menjadi suatu teori aktualitas. Segala objektivitas di dalam dunia luar bersandar kepada suatu proses tanpa pendukung yang berdiri sendiri. Ruang atau keluasan tidak memiliki “ada” sendiri. Ruang adalah gagasan tentang hal yang berada itu sendiri. Waktu adalah gagasan tentang gerak.

Empirisme dalam pandangan John Locke, semua fenomena dari pikiran kita yang disebut ide berasal dari pengamatan atau refleksi dan sensasi. Lockemenentang teori rasionalisme yang mengenai idea-idea dan asas-asas pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurutnya, segala pengetahuan datang dari  pengalaman dan tidak lebih dari itu. Akal (rasio) adalah pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. Akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. Semula akal serupa dengan kertas yang tanpa tulisan, yang menerima segala sesuatu yang datang dari pengalaman. 

Satu-satunya sasaran atau objek pengetahuan adalah gagasan-gagasan atau idea-idea yang timbulnya kerena pengalaman lahiriah (sensation) dan karena pengalaman batiniah (reflection). Pengalaman lahiriah mengajarkan kepada kita tentang hal-hal diluar kita, sedang pengalaman batiniah mengajarkan tentang keadaan psikis kita sendiri.

Tiap-tiap pengetahuan itu terjadi dari kerjasama antara sensasi dan refleksi. Dimulai haruslah dari sensasi, sebab jiwa manusia itu waktu dilahirkan merupakan yang putih bersih. Barulah kemudian refleksi sebagai pemenuhnya.

Empirisme selanjutnya datang dari seorang uskup Anglikan berkebangsaan Irlandia bernama George Berkeley. Dalam risalahnya mengenai prinsip – prinsip dasar pengetahuan manusia,  Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (1710), manusia melihat alam merupakan bahasa atau tulisan tangan Tuhan. Menurutnya, empirisme selanjutnya akan disebut subjektif idealisme.
Kaum empiris berpandangan bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh melalui pengalaman. Hume seperti layaknya filosof Empirisme lainnya menganut prinsip epistemologis yang berbunyi, “nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu” yang berarti, “tidak ada satu pun ada dalam pikiran yang tidak terlebih dahulu terdapat pada data-data inderawi”.

Menurut Hume, dalam budi kata tidak ada suatu ide yang tidak sesuai dengan impression yang dikarenakan “hal” di luar kita. Apa saja yang merupakan pengetahuan itu hanya disebabkan oleh pengalaman. “Hal” nya sendiri tak dapat kita kenal, hanya mendapat impression tersebut. Adapun yang bersentuhan dengan indera kita adalah sifat-sifat atau gejala-gejala dari hal tersebut.

Substansi itu hanya anggapan (khayalan), sebenarnya tak ada. Penyebab kita mempunyai pengertian tentang sesuatu yang tetap (substansi) itu, tidak lain karena adanya perulangan pengalaman, sehingga kita menganggap mempunyai pengertian tentang suatu hal, tetapi sebetulnya tidak demikian.

Begitu pula pengertian lainnya yang tetap dan umum semuanya tak ada halnya. Kita tak mengetahui kesebaban, yang kita kenal hanya urut-urutan kejadian, misalnya : pukulan dan kemudian kita rasa sakit. Oleh karena itu, kita kerap kali merasa sakit setelah ada pukulan, kemudian ada asosiasi antara pukulan dan sakit mengatakan bahwa yang menyebabkan sakit itu pukul. Namun sebenarnya tidak demikian. Itu hanya anggapan kita saja.

Sebagai tokoh empirisme, Hume tidak mengakui hukum sebab akibat (kausalitas). Dalam hukum kausalitas pada umumnya ada anggapan bahwa penyimpulan dari masalah-masalah yang nyata didasarkan kepada hubungan sebab akibat. 

Hubungan sebab akibat, menurut Hume, didapatkan berdasarkan kebiasaan dan harapan belaka dari peristiwa-peristiwa yang tidak berkaitan satu sama lain. Orang sudah terbiasa di masa lalu melihat peristiwa matahari terbit di Timur selalu diikuti oleh peristiwa tenggelam di Barat dan ia akan mengharapkan peristiwa yang sama terjadi di masa yang akan datang. 

Bagi Hume, ilmu pengetahuan tidak pernah mampu memberi pengetahuan yang niscaya tentang dunia ini. Kebenaran yang bersifat apriori seperti ditemukan dalam matematika, logika dan geometri memang ada, namun menurut Hume, itu tidak menambah pengetahuan kita tentang dunia. Pengetahuan kita hanya bisa bertambah lewat pengamatan empiris atau secara aposteriori.

Rasionalisme
Secara etimologis, rasionalisme berasal dari kata rationalism (bahasa Inggris), yang merupakan akar dari kata ratio (bahasa Latin) yang berarti “akal”. Menurut A.R. Lacey, rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi.

Para tokoh rasionalisme, pada abad ke-17 terdapat beberapa tokoh kenamaan seperti René Descartes, Gottfried Wilhelm von Leibniz, Christian Wolff dan Baruch Spinoza. Sedangkan pada abad ke-18, terdapat nama-nama seperti Voltaire, Diderot dan D’Alembert.

Pokok pemikiran Descartes (31 Maret 1596 - 11 Februari 1650) adalah bahwa akal merupakan satu-satunya jalan menuju pengetahuan. Di dalam buku Discourse on Method, dia mencoba untuk sampai pada pokok dari suatu asas atau pemikiran dasar. Untuk menerima itu, dia menggunakan sebuah metode keraguan atau “dubium methodicum”. Dia menolak semua pemikiran yang bisa diragukan, termasuk eksistensinya sendiri, diragukan pula olehnya. Selanjutnya, dia membangun kembali pemikiran itu untuk mendapatkan dasar yang kuat untuk pengetahuan yang murni. Pada awalnya, Descartes sampai pada satu prinsip dasar, yaitu berpikir ada. Berpikir tidak bisa dipisahkan dari dirinya, sehingga dia pun ada. Ungkapan ini lebih dikenal dengan cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada.

Descartes berpandangan bahwa segala yang inderawi dapat menipu, dengan kata lain tidak bisa dipercaya. Misalnya, sebuah sedotan yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air. Sedotan tersebut nampak bengkok, namun kenyataannya sedotan tersebut masih lurus – lurus saja. Oleh karena itu, kaum rasionalis berpendapat bahwa kebenaran maupun ilmu pengetahuan yang sejati adalah yang berdasarkan pemikiran, penalaran dengan akal sehat (rasio).
 


Sumber :
(http://gmnifia.multiply.com/journal/item/16/Filsafat_Empirisme)
(en.wikipedia.org/wiki/Empiricism)
(http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile/56/54)
(http://filsafat.kompasiana.com/2011/03/26/rasionalisme-empirisme-dan-kritisisme/)

Thursday, September 29, 2011

Metode Filsafat

Metode Plato

Metode Deduktif Spekulatif Transendental
  • Deduktif
    Metode mendapatkan pengetahuan dan kebenaran dari pernyataan - pernyataan yang bersifat umum (universal) hingga diperoleh kesimpulan yang bersifat khusus (partikular).
    Contoh :
    Premis Umum : Seluruh peserta lomba lari besok wajib tiba di lintasan lomba pukul 7 pagi.
    Premis Khusus : Anthony adalah peserta lomba lari.
    Kesimpulan : Anthony besok wajib tiba di lintasan lomba pukul 7 pagi.
  • Spekulatif
    Metode berfilsafat secara sistematis tentang segala sesuatu yang ada.
  • Transedental
    Metode pemikiran yang melampaui dunia inderawi.
    Ajaran Plato yang paling terkenal yaitu pemikirannya mengenai dunia ide. Menurutnya, dunia ide adalah tempat kebenaran dan pengetahuan yang sejati berada. Dunia ide merupakan realitas yang tidak dapat dirasa, dilihat, maupun didengar. Idea adalah dunia objektif dan berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Oleh karena itu, pemikirannya dianggap transendental. Selain itu, hal ini juga membuatnya dikenal sebagai seorang idealis - utopianis.




Thursday, September 15, 2011

Idealisme Plato


Idealisme Plato
Ajaran Plato yang paling terkenal adalah ajarannya tentang dunia ide. Menurutnya, realitas yang kita saksikan sehari –hari, yang inderawi ini bukanlah realitas (kenyataan). Realitas sesungguhnya, yang sempurna ada di dunia ide. Segala sesuatu di alam inderawi ini berasal dari dunia ide. Semua ide bersifat abadi dan merupakan kebaikan tertinggi. Jadi negara ideal yang disusunnya, begitupun Filsuf-raja, menurutnya sesungguhnya didasarkan usaha manusia meniru bentuk negara dan penguasa di dunia ide. Dunia ide itu sendiri adalah tafsirannya tentang “dunia tuhan” gurunya, Socrates. Pemikiran ini kemudian menjadi titik anjak metode Platonic, yang pada akhirnya mempengaruhi literatur teologi Eropa, bersisian dengan metode rasionalis – empiris Aristoteles.

Tiga karya Plato yang paling terkenal adalah Republic, Politicus dan The Laws. Republic ditulis di awal kedewasaanya, sedang dua lainnya di masa tuanya. Republic terdiri dari sepuluh bagian, mengetengahkan bentuk – bentuk negara sesuai pengamatannya secara teliti tentang seluk – beluk kehidupan negara pada masa situ. Inilah bukunya yang paling terkenal karena merupakan karya seni tingkat tinggi dalam bidang filsafat.

Di masa hidupnya, Plato menulis tidak kurang dari 36 karya tulis, sebagian dalam bentuk dialog dengan gaya satra yang sangat indah dan menawan. Oleh karena itu, Plato tidak hanya dikenal sebagai filsuf besar melainkan juga seorang sastrawan agung.

Dari 36 karyanya, oleh para sarjana modern telah diteliti bahwa :
  • Theages
  • Minos
  • Erastae
  • Alkibiades II
  • Axiokhus
  • Eryxias
  • Hipparkhos
tentang kebajikan, keadilan dan definisi – definisi bukanlah karya tulis Plato.

  • Epinomis
  • Alkibiades I
  • Kleitophon
  • Hippies Maior
  • Hippies Minor
masih diragukan keotentikannya.

Karya Plato yang berusaha mengabadikan pemikiran gurunya :
·         Dialogue (dialog)
·         Statesman (negarawan)
·         Apologia (pembelaan)
·         Republics

Karya tulis Plato terindah :
  • Phaedrus
  • Symposium

Pemikiran Plato


Negara ideal Plato
Sebagaimana dasar dari filsafat Plato adalah keutamaan dan kebajikan ( virtue ), maka negara ideal yang digambarkan Plato adalah sebuah negara yang didasarkan pada kebajikan. Erat sekali hubungan antara kebajikan dan pengetahuan. Hanya melalui pengetahuanlah orang mengerti kebajikan. Jadi penguasaan negara diberikan pada mereka yang paling berpengetahuan. Inilah yang kemudian disebutnya Filsuf-raja. Hanya para filsuflah, menurut Plato, yang paling layak memerintah karena mereka memiliki virtue serta mendasarkan seluruh hidupnya pada kebajikan. Ini diibaratkan seorang dokter, para filsuf adalah orang yang paling mengerti penyakit dalam masyarakat, menganalisa dan mencari pemecahan serrta pengobatannya. Hanya negara yang dipimpin Filsuf-rajalah yang bisa menjadi negara paling makmur sesuai cetak biru negara ideal di dunia ide Plato.

Guardians dan lembaga pendidikan
Filsuf-raja, yakni penguasa dan aparat serta pejabatnya haruslah dipilih dari anggota masyarakat yang terdidik dan terlatih. Mereka inilah yang disebut Guardians. Keanggotaan Guardians terbuka bagi setiap warga negara tanpa memandang status sosial dan gender. Setiap orang harus mendapat kesempatan yang sama melalui pendidikan. Hanya mereka yang lulus dari pendidikan berjenjang, ditambah 15 tahun berhasil membuktikan kemampuan dalam praktek lapangan sesuai pendidkan yang diterimanya yang berhak menjadi anggota Guardians.

Atas perlunya penyaringan masyarakat untuk menjadi Guardians inilah Plato menyarankan dibentuknya berbagai lembaga pendidikan (dia sendiri mempraktekannya dengan mendirikan Akademi). Lembaga – lembaga ini dikelola oleh negara. Keterampilan – fisik dan militer serta ilmu pengetahuan harus diajarkan secara adil dan berjenjang sesuai tahap – tahap perkembangan jiwa manusia. Dengan dasar inilah Plato kemudian memisahkan masyarakat menjadi dua kelompok besar, yakni Guardians dan Golongan Karya, yang mungkin dalam bahasa kita sekarang adalah militer dan sipil. Guardians adalah orang – orang pilihan yang dipilih berdasar kemampuan mereka lulus dari ujian di tiap jenjang pendidikan, sedang Golongan Karya adalah warga negara pada umumnya yang bekerja menghasilkan uang.

Kelas – kelas sosial
Plato membagi masyarakat Negara ke dalam tiga kelas :
  1. Kelas penasehat/pembimbing (counselors). Yakni para cendekiawan/filsuf, orang – orang yang pada akhirnya menjadi penguasa negara.
  2. Kelas pembantu (the state assistans), yakni militer. Mereka yang bertugas menjaga negara dari berbagai ancaman dan bahaya.
  3. Kelas penghasil (money makers), adalah rakyat secara keseluruhan.
Komunisme terbatas
Bisa dikatakan Plato adalah pencetus paling awal gagasan komunisme. Menurutnya, dalam pembagian kekayaan negara harus dibedakan sesuai jenis masyarakat. Jenis masyarakat pribadi, emas atau perak. Mereka digaji oleh negara, itupun dalam jumlah sedikit. Kepuasan para pegawai negeri ini tidak terletak pada banyaknya materi, melainkan sebagai pelayan dan abdi negara.

Sementara rakyat secara keseluruhan yang tak punya pilihan lain selain menjadi Golongan Karya, Plato memperlakukan berbeda. Mereka ini masih boleh memiliki kekayaan pribadi, tapi jumlahnya harus terbatas. Tidak boleh kaya, tapi juga tidak miskin. Bila tampak masyarakat mulai membutuhkan bantuan, maka kewajiban negara mengucurkan dana. Akan tetapi bila dirasa cukup, bantuan ditarik kembali (pengkritik modern menganggapnya menjadikan semacam masyarakat yang lemah dan tergantung, sebab sudah menjadi sifat rakyat bila terlalu miskin bisa memberontak dan memancing revolusi, sementara telalu kaya bisa menjadi masyarakat yang kritis). Dengan demikian, jelaslah bagi kita sekarang, negara mana pun  yang menerapkan ajaran Plato ini adalah negara yang warna politiknya komunisme terbatas.

Anti individualisme
Di sisi lain, Plato juga mengajarkan anti individualisme. Menurutnya, lembaga perkawinan dan keluarga harus dihapus. Baik kekayaan, anak maupun istri harus menjadi milik bersama seluruh warga negara. Argumennya yaitu :
1.      Kekayaan
Harus menjadi milik bersama karena kepemilikan perorangan bisa menyebabkan ketimpangan ekonomi, menciptakan jurang si kaya dan miskin dan pada akhirnya menyebabkan masyarakat terpecah. Memang kekayaan masih boleh dimiliki, tetapi harus dibatasi negara. Dengan demikian, tak ada lagi  si kaya dan si miskin.
2.      Anak
Harus menjadi milik bersama karena setiap individu anak adalah bibit Negara. Setiap anak dipelihara Negara, dididik secara berjenjang. Mereka tidak boleh mengetahui orangtuanya. Begitu pun sebaliknya. Semua warga Negara adalah saudara.
3.      Istri
Harus menjadi milik bersama. Tak seorang pun berhak menyatakan memiliki seorang istri. Istri harus menjadi milik kolekti. Hal ini karena baginya, lembaga perkawinan hanya menciptkan diskriminasi bagi wanita. Wanita tidak lagi bisa berperan penuh sebagaimana laki – laki, kasrena melalui lrmbaga perkaswainan, wanita terinstitusional secara sosial sebagai pekerja runmah tangga, mengabdi pada suami dan mengasuh anak –asnak. Padahal wanita pun punya potensi yang sama dengan laki – laki.

Dari pelbagai sumber.

Biodata

Plato (427 - 347 SM)

Plato (bahasa Yunani: Πλάτων) adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, serta pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates sekaligus guru Aristoteles. 

Nama aslinya adalah Aristokles. Plato, dalam bahasa Yunani berasal dari kata dasar platos/platus yang artinya lebar/lebarnya, yang berarti si lebar. Nama itu didapatnya dari guru senamnya karena bahu dan dahinya yang lebar.
Plato terlahir dalam keluarga bangsawan. Ayahnya bernama Ariston, seorang bangsawan keturunan Raja Kodrus, raja terakhir Athena. Ibunya, Periktione adalah keturunan Solon, negarawan legendaris Athena. Ayahnya meninggal ketika ia masih kanak – kanak. Pamannya yang bernama Pyrilampes kemudian menikahi ibunya.

Meskipun hidup nyaman dalam keluarga bangsawan, ia adalah generasi Athena yang mewarisi situasi di mana negara menjadi ajang kekuasaan. Plato lahir di tahun kematian Pericles, negarawan yang membawa kemakmuran bagi Athena yang mengakibatkan kondisi politik Athena berangsur mengalami dekadensi. Selain perpecahan di dalam Athena sendiri, dari luar Athena digempur Sparta mulai 431 SM, yang dikenal sebagai Perang Peloponissos. Ini adalah perang saudara yang paling menghancurkan Yunani. Kondisi inilah yang menyebabkan Plato kecil membenci perang.

Kebenciannya akan perang terbawa sampai ia dewasa. Oleh karena itu, daripada mendaftar menjadi tentara, ia lebih memilih belajar sastra. Namun sastra saja tidak memuaskannya, ia pun kemudian berguru pada Kratylos untuk belajar filsafat.

Semua ajaran Kratylos dapat diterimanya dengan baik. Akan tetapi, ia memiliki pendapatnya sendiri. Sampai suatu saat, ia mendengar tentang Sokrates. Di tengah kemerosotan moral yang menggerogoti Athena pada masa itu, datanglah Sokrates dengan ajaran tentang budi.

Ajaran Sokrates membuatnya kagum. Saking kagumnya, sebagian besar karya Plato menghadirkan Sokrates, gurunya, yang ia sebut “ the noblest and the wisest and most just, “ yang mulia, paling bijaksana dan yang paling tulus.

Setelah kematian sang guru tercinta sekaligus sahabat terbaiknya akibat konspirasi jahat pemerintahan demokrasi negaranya, Plato yang kecewa memutuskan untuk keluar dari Athena. Ia mengembara ke negeri – negeri timur sekitar 12 tahun, sebelum akhirnya ia kembali lagi ke Athena tahun 387 SM. Selama 40 tahun terakhir hidupnya dihabiskan di kota kelahirannya itu. Ia mengajar di sekolah yang didirikannya, Akademi, serta menulis berbagai karya filsafat sampai akhirnya meninggal pada usia 80 tahun.

Melihat perlakuan istri Sokrates yang buruk pada suaminya dan ketidaksetiaan ibunya sepeninggal ayahnya, seumur hidupnya Plato tidak menikah. Akademi sepeninggal Plato tetap berjalan di bawah kepemimpinan Speusippos, keponakannya, dan tetap bertahan hingga 900 tahun kemudian.