Labels

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, October 22, 2015

Jual Beli Pengaruh ala Nasdem

Surya Paloh dinilai pengamat masih berpengaruh kuat. Baik kepada kader partainya maupun yang sudah mantan anggota. Demikian penilaian Muh. Imam Nasef, Pakar Tata Hukum Negara SIGMA yang disampaikan kepada wartawan Okezone, Kamis (22/10/2015). 

Pernyataan beliau itu merujuk kepada Jaksa Agung H.M. Prasetyo yang kini digadang-gadang akan segera dicopot dari jabatannya. Perihal keterlibatannya dalam kasus suap dana Bansos Sumut bersama Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti. Bahkan kasus ini juga menyeret dua nama petinggi Nasdem lainnya, Eks. Sekjen Nasdem Patrice Rio Capella dan Ketua Mahkamah Partai Nasdem O.C. Kaligis.

"Surya Paloh ini kan pemain lama. Justru orang yang sudah lama di parpol jadi tahu lebih banyak celah. Potensi korupsi dan abuse of power jadi makin besar kalau dia tidak memiliki integritas," ungkapnya.

Nasef juga menambahkan, kasus korupsi yang menimpa Nasdem ini merupakan fenomena jual beli pengaruh. Buktinya ada penyumpalan 200 juta dari Evy ke Rio Capella, melalui Fransisca dengan harapan PRC dapat memengaruhi keputusan Kejagung akan status tersangka GPN.

"Rio Capella itu bukan main-main loh. Dia sekjen, orang kedua di partai. Langsung di bawah ketua umum. Kalau dia maju ngomong masa iya tidak didengarkan,"terangnya. 

Untuk itu, Nasef mendorong KPK mengambil alih (take-over) kasus korupsi dana bansos ini.

"KPK tidak bisa berhenti pada penyelidikan Gatot-Evy saja, tapi usut tuntas, kembangkan penyelidikan, siapa saja yang terlibat. Kalau nantinya Pemimpin utama Nasdem si Surya Paloh terbukti bersalah juga, ya KPK harus bisa menindak itu. Enggak boleh tebang pilih, harus berani," tegasnya.

Catatan: Hasil Liputan yang Tidak Dimuat 

Tuesday, October 13, 2015

Berita Buruk Arab = Zionis = Kafir

12 Oktober 2015, pukul 10.48 WIB, Kompas.com mengunggah berita berjudul 
"Posting" Video Suami Meraba-raba Pembantu, Wanita Saudi Terancam Dibui

berita ini menempati posisi 1 berita terpopuler dan sampai opini ini dituliskan, telah dibaca sebanyak 30.616 kali. 

Berita Terpopuler 1 Kompas.com 12 Oktober 2015
Apa isinya? Koq saya sampai bikin reviewnya segala? Apa menariknya coba?

Jadi begini. Ceritanya si istri memergoki suaminya (di rumah mereka loh) sedang bicara dengan pembantunya. Tapi kok makin lama makin memojokkan. Tangan mulai jahil, bibir monyong-monyong kurang kasih sayang. Si pembantu geleng-geleng, mengelak. Tapi si tuan lebih superior, terus saja maksa tanpa ampun. Mana tahan kalii?! Direkamlah sama si istri. Disebarin ke dunia maya. Tulisnya di bawah video pelecehan seksual suaminya:

"Hukuman Minimum bagi Suami Ini adalah dengan Membuatnya Jadi Malu".
Usut punya usut kabarnya video yang sempat menyebar luas di Arab Saudi ini sudah dihapus oleh empunya. Tapi, namanya juga medsos, video keburu menyebar. Keendus lah sama media, mengundang komentar dari publik. Salah satu yang dikutip, seorang pengacara terkenal di Saudi, Majid Qaroob, mengatakan kepada media setempat bahwa si istri bisa menghadapi hukuman penjara atau denda besar jika ia didakwa dengan pencemaran nama baik. 
"Dia bisa menghadapi hukuman hingga satu tahun penjara atau denda 500.000 riyal atau Rp 1,7 miliar karena memfitnah suaminya sejalan dengan undang-undang tentang kejahatan teknologi informasi,"
Berita Terpopuler di Kompas.com pada 12 Oktober 2015
Gue cuma heran, bagaimana bisa seorang pengacara mengatakan bahwa si istri ini yang berpotensi menerima hukuman? Dengan tuduhan 'memfitnah' pula. Bagaimana bisa, dari sisi mana bisa dikatakan bahwa perbuatan si istri itu FITNAH? Bukankah peradilan selalu menjunjung tinggi putusan berdasarkan bukti otentik? Lalu apakah sebuah rekaman gambar dan suara yang sedemikian hidup ini cuma akal-akalan yang disutradarai sedemikian rupa oleh si istri sendiri? Menyutradarai film suami yang melecehkan pembantu mereka, di rumah cinta mereka sendiri? Katakan padaku, bagaimana bisa sebuah bukti juga adalah fitnah?!

Bagaimana bisa, media juga cuma mengusutnya dari sisi seorang pengacara yang bahkan tidak disewa untuk membela maupun memperkarakan kasus tersebut? Kemudian hanya membahas dari mata hukum patriarkat. Tidak bicara hak perempuan atau dari sisi perempuan di sana.

Okelah si istri keterlaluan karena menyebarkan hal privat ke publik dan dapat dituding melakukan pencemaran nama baik. Lalu mengapa tidak ada dari berita di atas yang membahas si pembantu yang dilecehkan? Bukankah ia korban? Selain si istri yang sebenarnya juga korban perselingkuhan dan pengkhianatan suaminya.

Apakah posisi perempuan sebegitu tidak berharganya di mata negara suci itu? Saya rasa Muhammad  Anda tidak mengajarkan untuk melecehkan perempuan, bukan? Maaf, saya tidak pernah bermaksud melecehkan agama dan keyakinan maupun ras tertentu. Tapi kalian perlu melihat komentar yang tertera untuk berita di atas. Dan kalian akan tahu pesan apa yang sampai ke khalayak setelah membaca berita ini. Sehingga menurut saya, pantas untuk saya katakan hal tersebut di atas.

Beberapa komentar yang muncul untuk berita terpopuler di atas.
Lagi-lagi saya bertanya-tanya. Apa ya hubungannya pelecehan seksual dengan kekafiran, kristenisasi, zionis, trik liberalisasi sampai konspirasi Amerika dan Israel??????

Sekadar tahu, terdapat 125 komen yang dituai dari naiknya berita tersebut. Mengapa orang-orang hanya bicara soal Pro Arab dan Anti Arab? Menurut saya bukan itu fokusnya. Ini pelecehan seksual. Fakta yang memang harus diberitakan. Enggak peduli Arab kek Amerika kek, Indonesia kek. Mengapa hanya memandang persoalan agama dan ras atau suku bangsa tertentu?? Padahal hal tersebut tidak dibahas atau terbersit sedikitpun dari isi pemberitaan? Adakah Kompas bicara soal "Arab, negara berpenduduk Muslim terbesar, tempat di mana kitab langit umat Islam turun?" Saya pastikan tidak. Bahkan pesan tersirat pun tidak.

Yang saya tangkap, berita di atas hendak mengunggah simpati dan kesadaran publik mengenai adanya pelecehan seksual yang terjadi pada dua orang perempuan. Dimana ada pergeseran budaya akibat kemajuan IPTEK yang menyebabkan saksi bisu bersuara di jaringan kasat mata dimensi maya.

Kalau si istri bisa dikomentari tidak taat agama, tidak dalam ilmu agamanya. Lalu apakah si suami, yang dalam video berusaha bercumbu dengan perempuan yang bukan mukhrimnya itu yang bisa disebut sebagai imam keluarga, tauladan dan orang yang kuat, tinggi dan dalam ilmu agamanya?

Kalau benar begitu pendapatan dunia tentang agama. Maka saya lebih baik tidak beragama. Saya lebih baik jadi kafir yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab, alih-alih ketuhanan yang maha pelecehan dan pembenaran.

Untuk apa mendalami agama dan membela mati-matian. Jika masih tidak bisa menentukan mana yang salah dan benar.

Mengapa berita buruk terkait Arab selalu dianggap sebagai berita kafir dan zionis, berita menyesatkan? Padahal kalau berita sejenis dikatakan dari negara Barat atau non muslim seperti AS, mereka akan membenarkan dan mengatai betapa kafirnya memang itu negara. Mereka akan bisa melihat bahwa pelecehan seksual yang dilakukan si Amerika memang suatu tindak kejahatan kemanusiaan dan layak sekali dihukum. Tapi kalau aktor Cabulnya orang Arab atau Muslim kesannya jadi terbalik. Malah jadi menuding adanya diskriminasi, SARA atau Islamofobia. Padahal enggak juga. Tergantung konteks dan isinya. 

Jadi, tolong berhenti lah melakukan pembenaran-pembenaran subjektif nan inklusif. Tolong objektif dan fokus pada isu kemanusiaan yang diangkat. Kalau salah katakan salah. Kalau benar maka akui benar.

Sumber berita:
http://internasional.kompas.com/read/2015/10/12/10483201/.Posting.Video.Suami.Meraba-raba.Pembantu.Wanita.Saudi.Terancam.Dibui. Diakses 12 Oktober 2015.

Saturday, September 12, 2015

Demo Boleh, Tapi Beretika dan Berempati

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Studi Ciputat melakukan aksi unjuk rasa dengan memakai pakaian dalam wanita serta topeng wajah Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-JK, di depan Istana Negara, Jakarta, 10 September 2015. (TEMPO—Imam Sukamto). Sumber: Tempo.co
Menarik untuk membaca komen-komennya. Padahal ini baru foto-foto saja yang beredar. Tempo mengunggahnya dengan secuil penjelasan. Namun bagi pembaca, foto tersebut sudah bicara banyak.


Komentar pembaca dari situs Tempo.co. Selengkapnya: http://foto.tempo.co/read/beritafoto/34000/Desak-Jokowi-Mundur-Mahasiswa-Kenakan-Pakaian-Dalam-Wanita/3. Akses 11 September 2015.

Komentar pembaca pada akun facebook Tempo Media. Selengkapnya: https://www.facebook.com/TempoMedia/posts/10153647351183442. Akses 11 September 2015.


Para mahasiswa yang mengaku tergabung dalam Lingkar Studi Ciputat ini menuntut diturunkannya Presiden Jokowi dan Wapres-nya JK karena dianggap sudah menipu masyarakat dengan janji-janji palsu. Dalam selebarannya, mereka menyebut partai dan DPR (layaknya) banci (apa)bila takut menurunkan Jokowi-JK. Berikut adalah foto selebaran utuh:
Sumber: onlineindo.tv.
Ada-ada saja memang tingkah mahasiswa ini. Demi menjatuhkan kepala negara mereka sendiri, mereka abai dengan sesamanya yang sensitif gender. Demi menunjukkan kebebasan berekspresi mereka di ruang publik, mereka lupa bahwa label mereka adalah MAHA-Siswa, kalangan akademis dan intelek, namun cara mereka berperilaku menunjukkan betapa jauh mereka dari kepantasan menyandang gelar kehormatan selaku mahasiswa. 

Mereka merasa bahwa aksi mereka dan pendapat mereka cerdas, padahal cuma sekadar ego yang meluap-luap tanpa kendali. Coba menilik kembali perlakuan kalian sendiri kepada orangtua dan kerabat di sekitar Anda. Apa sudah menunjukkan kelayakan sebagai manusia sejati? Sudah bisa membahagiakan orang-orang di dekat Anda? Sudah sukseskah Anda mengubah perilaku buruk orang-orang di sekitar Anda? Kalau belum, tolong tidak perlu berlagak mampu jadi pemimpin yang lebih baik. Koar-koar Anda tidak akan didengarkan apalagi menggugah perspektif khalayak jika Anda sendiri adalah pribadi yang menolak berempati dengan sesama Anda.

Mulai dari diri sendiri. Jangan berpikir untuk mengubah dunia dan kemudian hari Anda baru menyesal bahwa seharusnya Anda mengubah diri dulu untuk membuat dunia berubah bersama Anda. 

Selamat berdemo, para mahasiswa sekalian. Ingat untuk menunjukkan kecerdasan dan intelektualitas kalian. Mahasiswa itu berakhlak luhur dan berwibawa. Kita beretika. Kita bersuara demi kepentingan masyarakat banyak. Mengapa? Sebab kami semua berempati pada penderitaan sesama kami, kaum manapun. Kami beraksi, atas nama .... KEMANUSIAAN. Wassalam.

Monday, August 31, 2015

Playboy/Playgirl Sejati: Cinta adalah Petualangan Tiada Akhir

Source: askmen.com
Kau berharap aku akan menangis? TIDAK AKAN! TIDAK LAGI!! Buat apa?! Jangan harap aku akan meneteskan lagi air mata untuk orang sepertimu. Memalukan. Kau, manusia tak tahu malu! Hina! Ya, walau harus kuakui bahwa salahku juga karena sudah mengijinkanmu masuk dalam kehidupanku. 

Dari pacar jadi teman? Kau minta aku menunggumu?? Menggantungkan cinta yang terlarang ini?! MATI SAJA KAU KE LAUT!!!! Aku tak butuh cinta coba-coba macam kau!! ENYAH!!!!
***

Menarik memang menyaksikan bagaimana hati manusia dapat berubah dalam sekejap saja. Baru sebulan, atau bahkan lebih awal lagi? Wah...wah...luar biasa! Dalam waktu sedemikian singkat sudah punya dirimu incaran baru. Lagi-lagi dia cantik dan putih bersih, sepertiku. Adik kelasku? Adik kelas kita? Wah, semakin lihai engkau. Masih polos dia, tidakkah kau kasihan padanya? Lah, kenapa juga perlu kau pusingkan itu? Terutama kan nafsumu dulu yang harus terpuaskan. Mana ada lah cinta perlu memikirkan perbedaan usia dan latar belakang. Bukan kah memang perbedaan itu yang membuat gairah insan-insani menyala-nyala? Lingga harus bertemu Yoni untuk bisa saling melengkapi. Benar kan? Hanya orang picik yang masih mempertimbangkan cinta berdasarkan rentang usia, etnis dan agama.

Source: quotesstack.com
Lagipula apa salahnya mengejar kecantikan? Perempuan itu memang makhluk terindah yang pernah tercipta. Hawa dihadirkan demi menemani Adam. Jadi sudah kodrat bagi pria sepertiku memuja kerupawanan perempuan. Walau memang tidak semua perempuan tercipta untukku. Ya tapi mana aku tahu mana yang tulang rusukku kalau tidak kucoba? Adam sih enak. Dia manusia pertama. Jadi tidak perlu mencari dan memilih, menerka-nerka dari sekian banyak. Dia cuma perlu bangun dan mendapati makhluk ranum tertidur di sampingnya dengan begitu terbuka. Memangnya kalian perempuan tidak begitu? Apa kalian bisa tahu mana jodoh kalian dengan sekali coba?

Hihi...kau benar. Lagi-lagi kau memang selalu benar. Walau ada juga ya mereka yang pacaran sekali seumur hidup dan menikah sampai maut memisahkan. Biasanya salah satu akan sedikit menyesal karena tidak menikmati masa lajangnya. Cuma pasangannya enggak tahu saja. Soalnya terlanjur didaulat sebagai pasangan paling harmonis dan tauladan. 

Aih..aih...betapa romantis dan dramatisnya. Cinta sejati. Sejoli yang berjuang satu sama lain dari badai cobaan yang menerpa hubungan mereka. Saling menyakiti, saling berkorban demi kebahagiaan pasangannya. Namun tak kuasa menahan cinta tak terperi yang meluap-luap ingin menyatu. Tak bisa tak bersua barang sedetik. Amboi, mengagumkannya kekuatan cinta. Mampu meredam badai, mengakhiri perang dan menyelamatkan dunia. Menembus galaksi, dimensi. Tak terbendung kuasanya bahkan oleh campur tangan kehendak langit sekalipun. 
***

Apalah artinya cinta? Apa dari mata turun ke hati? Kalau begitu hanya dari nafsu itu bersumber. Secara fisik saja kau terpesona, kagum lalu kau ambil serius itu. Bulatkan tekad tuk dapatkan. Habis manis sepah dibuang. Kau jalani ternyata tak seindah mulanya. 

Apalah artinya cinta? Apa sebuah perjuangan? Play hard to get. Therefore, you won't get off easily, too. Tapi bagi kebanyakan pecinta di luar sana. Kegigihan adalah hasil kebulatan tekad. Kegigihan hanyalah api yang perlu dipadamkan. Membakar hari-hari, menggelorakan getar asmara. Harus dapatkan baru puas. Perjuangan bagi kaum laki-laki adalah keharusan, bukti kejantanan. Kodrat. Means, common sense of their emotional feeling to bring. Ibarat sperma yang memang harus dikeluarkan. Tidak peduli ada medium atau tidak. Tidak peduli inangnya sah atau tidak. Yang penting harus dikeluarkan. Dan sebanyak sperma itulah perjuangan (baca: cinta) yang bisa mereka persembahkan. Karena tidak seperti perempuan yang persediaan ovumnya terbatas. Man is always available. Abounds ammunition. Bagi mereka cinta adalah perjuangan, bisa memperjuangkan karena biasa. Kalau si target membuka diri, maka mereka masuk. Tetapi kalau menutup diri dan tak nampak akan membuahkan hasil, mereka akan pergi dari pintu itu tuk berpindah ke rumah sebelah dan mengetuknya lagi. Begitu seterusnya, sampai ada yang membukakannya pintu dan membiarkannya masuk. Kalau ternyata si tuan rumah menjemukan, ia bisa pamit. Meninggalkan jejak semata bagai tamu tak diundang. Dan mengetuk pintu lainnya. Cinta tak ubahnya petualangan.

Apalah artinya cinta? Worth for a waiting. Pertanyaannya adalah berapa lama? Dan seberapa pasti? Saat ini kita bisa berpikir bahwa si dia yang terbaik. Kalau bukan dia, aku pasti tidak mau yang lain. Dan takkan mungkin juga akan ada yang lain ke depannya. Pasti ada yang lebih baik dari dia nantinya, tapi bagaimanapun aku ingin mempertahankan yang satu ini. Tapi apa iya kamu bisa memastikan hatimu akan tetap di masa depan nanti? Coba dech lihat ke belakang. Berdasarkan pengalamanmu, ada enggak hal-hal yang semasa kecil kamu suka dan kamu dulu berpikir akan terus suka sama orang atau barang itu. Tetapi sekarang, setelah sekian tahun lamanya kamu sudah enggak suka lagi. Bagimu sekarang film kartun favoritmu, bacaan kesukaanmu, makanan dan idola yang kamu gilai itu berganti. Kembali ke hubungan, ke masalah hati. Masa iya, kamu akan bergeming dengan yang sekarang di masa depan nanti? Ok lah, kamu jawab bisa. Sekarang coba pastiin, pasanganmu bisa enggak? Kamu beruntung ternyata punya tambatan hati yang emang setia luar biasa. Terus benar dia nunggu kamu. Eeh...enggak tahunya kamu ketemu jodoh kamu yang sebenarnya. Dia masih nunggu, mampukah kamu membiarkan dia sakit sendirian? Entah sudah berapa pintu yang dia lewati atau dia banting di muka demi kamu. Kemudian ternyata semua tidak sama lagi, bagi kamu maupun bagi dia. See? 

Apalah artinya cinta? Kata orang sich, cinta itu enggak harus memiliki. Hoaalah...sompret! Menghibur diri banget itu maah. Alibi kali. Mana ada cinta tak harus memiliki?! Itu namanya bukan cinta! Tapi memang enggak jodoh, Lol! Jadi tolong ya, enggak usah suka pada maksa ngartiin soal CINTA. Pada kaya orang susah aja lu pada! <- Salam manis dari Engkong aye.
***

Prinsipnya. Kalau memang cinta, kamu enggak mungkin bisa biarin dia lepas gitu aja dengan mudahnya. Kalau SERIUS cinta, kamu akan memikirkannya matang-matang sejak awal hubungan. Bukan coba-coba dulu jalanin, karena kamu mikir 'enggak tahu kalau enggak dicoba'. Setelah di tengah jalan, dengan begitu banyak hal yang kalian sudah sama-sama terbuka dan saling tahu, berbagi banyak rahasia, ke mana bedua-duaan. Baru tuh di tengah jalan kamu mikir, 'mau dibawa ke mana hubungan kita?' (meminjam lagunya Armada, gitu lah kira-kira) Yah, orang keburu sakit hati lah. Wong di awal kamu bilangnya mau serius. Ekh, pas ketemu rintangan langsung mundur seribu langkah. Alibinya menunggu waktu yang tepat lah. Dan karena ini keputusan terbaik untuk saat ini bagi kita berdua lah. Akh...sompret! PIKIR PANJANG donk jadi orang!!!!!!!!!!!!! Please dech akh!

Ingat satu hal ya, para pecinta, sekali kamu melepaskan, jangan berharap buruanmu akan kau dapatkan kembali. Kecuali mereka idiot.

Thursday, July 2, 2015

Ketika kita jatuh

Ilustrasi: rablinsingh.wordpress.com
Ketika kita jatuh, kita sakit.
Setiap orang pernah jatuh dan tahu rasanya sakit.

Ketika kita jatuh cinta, kita sakit berseri-seri.
Mengapa mencintai terkonsepkan sebagai kejatuhan?
Sederhana saja. Karena ketika kita jatuh cinta kita harus siap dengan rasa sakit yang mungkin muncul. Ketika kita mencintai, dunia kita berputar di sekitarnya. Menyerap semua fokus kita kearahnya. Curahan pikiran, perasaan dan segenap kepedulian melebur jadi asa. Dan ketika asa itu tidak melebur secara sempurna dan bahkan koyak, itulah yang menyebabkan kita jatuh, sakit. 

Persoalannya kemudian ialah....
Apakah,
masihkah,
perlukah
haruskah,
manusia bersusah payah untuk cinta?

Untuk sebuah ketimpangan...
ketika yang satu siap dan yang lain gentar.

Seberapa layak...
untuk sebuah kejatuhan, 
diperjuangkan?????????

Kata-kata manis dan pengharapan?
Palsu, sampah dan omong kosong
Rayuan dan cumbu?
Hanya nafsu yang tak kenal waktu

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
~Farewell~

Monday, April 13, 2015

Popularitas Jokowi dan Mega Kalah Jauh dari SBY

Logo situs TokohIndonesia.com
Menarik ketika saya melihat sebuah polling di situs TokohIndonesia.com, sebuah situs ensiklopedia biografi para tokoh ternama Indonesia. Polling diadakan guna menetapkan Presiden RI mana yang paling difavoritkan pengunjung. Mengejutkan, ketika saya melihat ternyata perolehan suara Jokowi terkecil di antara presiden-presiden pendahulunya. Bahkan SBY masih jauh lebih diidolakan oleh pengunjung situs Tokohindonesia.com dengan perolehan dukungan sebanyak 690 suara atau 11%. Ada apa gerangan ini? Ada apa denganmu Pak Presiden?

Di-capture pada 12 April 2015
sekitar pukul 19.00 WIB
Semasa pemilu presiden 2014 lalu, masih terngiang dalam ingatan betapa dielu-elukannya mantan Gubernur D.K.I. Jakarta yang bersahaja ini. Keberhasilannya membangun kota Solo menjadi kota yang lebih rapi, berbudaya, menghidupi 'wong cilik' melambungkan namanya hingga ke telinga ibukota. Anak kemarin sore yang digadang-gadang, atau dengan kata lain, tepatnya, diharap-harapkan dapat memperbaiki kondisi ibukota yang super semerawut ini saking populernya sampai dicalonkan rakyat menjadi 'orang nomor wahid di Indonesia. Penampilannya yang sederhana, gayanya yang mau dekat dengan rakyat, keramahan Beliau, hobinya yang suka blusukan..aduhai, membuat terpincut hati 53,5% rakyat Indonesia. Namun kini mengapa popularitas Jokowi menurun? Hmmph...

Kesalahan Jokowi

Berikut beberapa kekeliruan Jokowi yang mungkin menjadi faktor turunnya kepercayaan masyarakat kepada pemilik nama lengkap Joko Widodo pasca keterpilihannya sebagai Presiden RI ke-7.
  1. Pelanggar HAM bebas bersyarat
    Tertanggal 28 November 2014, Pollycarpus, pembunuh aktivis Munir dibebaskan bersyarat. Padahal masa kurungannya masih 6 tahun lagi. Janji Nawacita Jokowi-JK lantas dipertanyakan.
  2. Naik-turunnya harga BBM
    Setiap 2 minggu sekali harga BBM berubah. Bulan Januari dan Februari harga solar dan premium mengalami penurunan hingga Rp.6400,00 dan Rp.6900,00. Namun sejak Maret kemarin, BBM kembali naik menjadi Rp.6900,00 untuk solar dan Rp.7.400,00 untuk premium. Kebijakan ini benar-benar membingungkan masyarakat dan mengacaukan harga pasar. Lihat saja beberapa berita terkait yang muncul di Tempo.co pada tautan ini: http://www.tempo.co/read/news/2015/04/01/058654549/Mahasiswa-Bangkalan-Protes-BBM-Pengusaha-SPBU-Tutup-Usaha.
  3. Menter-menteri yang dinilai kebijakannya aneh
    Kabinet Menteri Jokowi-JK dinilai tidak kompeten. Malah mengecewakan. Terutama Menteri Ekonomi yang tidak bisa menstabilkan harga sembako, naik turun BBM dan pelemahan rupiah. Kemudian Menteri Penerbangan Ignatius Jonan yang dianggap nyeleneh dan tidak cerdas dalam menjawab persoalan pelanggaran maskapai.
  4. Penunjukan Budi Gunawan sebagai Kapolri
    Kisruh KPK vs Polri atau cicak versus buaya kembali menjadi sorotan. Walaupun dibantah mati-matian oleh Polri, masyarakat tetap menilai kriminalisasi terhadap Abraham Samad dan Bambang Widjayanto merupakan aksi balas dendam Polri atas penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka. Putusan yang mengakibatkan gagalnya BG dilantik jadi Kapolri menggantikan Jenderal Sutarman yang sudah waktunya pensiun. Lalu, bagaimana presiden menanggapi kasus ini? Hanya sekadar wacana yang lagi-lagi tanpa penyelesaian yang jelas. Jabatan pimpinan KPK sementara didelegasikan kepada
    Taufiequrachman Ruki selaku Plt. Ketua, mantan jubir KPK Johan Budi dan Zulkarnaen. Sementara jabatan Plt. Kapolri diamanatkan kepada
    Komjen Badrodin Haiti dan Kepala Bareskrim dipegang Komjen Budi Waseso.
  5. Keretakan dengan JK dan KIH
    Luhut Binsar Pandjaitan dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan di Istana Negara, Keputusan Presiden Nomor 148/P/2014 yang ditandatangani Jokowi pada 31 Desember 2014. (Fery. 2014. http://www.tempo.co/read/news/2014/12/31/078632090/Jokowi-Lantik-Luhut-Jadi-Kepala-Staf-Kepresidenan. Akses 13 April 2015) Putusan ini ternyata kurang menyenangkan hati JK sehingga ada saling sindir antara presiden dan wakilnya. Hal inilah yang dicium awak media sebagai tanda-tanda keretakan hubungan duo eksekutif RI ini.
    Sindiran Megawati juga jelas ditujukan kepada Jokowi dalam pidato politiknya, "kalau tidak mau disebut petugas partai, keluar!" (http://www.tempo.co/read/news/2015/04/11/078657070/Sindir-Jokowi-MegaTak-Mau-Disebut-Petugas-Partai-Keluar) Anehnya lagi, koalisi yang mendukung kenaikan Jokowi sebagai presiden kini malah menolak kebijakan Jokowi dan partai lawan malah mendukung kebijakannya.
Wah, kasihan Jokowi. Serasa berjalan sendirian. Entah siapa yang benar dan siapa yang patut dipersalahkan. Bagaimanapun, rakyat menuntut Jokowi-JK untuk menepati janji-janjinya. Program Nawa cita dan Trisakti Jokowi sangat ditunggu realisasinya oleh masyarakat. Hemat saya, jika Jokowi sampai mengkhianati (lagi-lagi) kepercayaan segenap rakyat Indonesia, bisa-bisa rakyat tidak akan percaya lagi pada demokrasi dan presidensial. Waah, jangan sampai ramalan sistem pemerintahan Polybius terjadi pada NKRI. Dimana keruntuhan demokrasi mengakibatkan rakyat berbondong-bondong ingin memimpin sendiri. Inilah kekacauan atau akhir dari suatu negara yang memasuki sistem pemerintahan okhlokrasi.

Berdasarkan polling presiden RI yang diidolakan pengunjung situs TokohIndonesia.com, demikianlah yang terjadi. Hasilnya, Bapak Proklamator masih menjadi presiden yang paling diidolakan dengan perolehan suara 2311 (35%), diikuti BJ Habibie dengan 1219 suara (19%), selisih 12 suara dengan Mayjen Soeharto (18%). Posisi keempat dan keenam ditempati oleh (alm.) Gus Dur dengan 735 suara (11%) dan Megawati sebanyak 216 suara (3%). 

Presiden Masih Dipercaya
Penilaian berbeda terhadap kinerja Jokowi sebagai presiden ditunjukan indobarometer. Seperti dilansir dari antaranews.com, tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wapres M. Jusuf Kalla masih sebesar 57,5 persen. Meskipun tingkat kepercayaan terhadap lembaga kepresidenan lebih tinggi, yakni mencapai 88,3 persen. 

"Jadi dari hasil survei ini pesannya jelas, cepat-cepat harus segera dilakukan perbaikan-perbaikan mumpung tingkat kepercayaan terhadap lembaga kepresidenan masih tinggi meskipun kepercayaan terhadap presiden lebih rendah," kata Direktur Indo Barometer M Qodari saat memaparkan hasil survei di Jakarta, Senin.

Survei dilakukan Indo Barometer pada tanggal 13 sampai dengan 25 Maret 2015 di 34 provinsi dengan responden sebesar 1.200 orang dengan margin of error sebesar 3,0 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (Suryo, Jaka. 2015. http://www.antaranews.com/berita/489274/indobarometer-kepuasan-terhadap-pemerintahan-jokowi-jk-575-persen. Akses 13 April 2015)


Nah, catatan dari penulis adalah hasil polling melalui media siber memiliki banyak kerugian dan akurasi yang lemah. Oleh karena itu, hasil polling di TokohIndonesia.com belum tentu benar atau mampu mewakili penilaian masyarakat atas kepemimpinan Jokowi selaku kepala negara. Lagipula yang ditanyakan adalah presiden RI yang diidolakan. Persepsi mendukung dan mengidolakan adalah 2 hal yang berbeda soal. Namun begitu, penulis menonjolkan penilaian media siber tersebut guna mengkritisi kinerja pemerintahan Jokowi-JK yang bagi penulis pribadi memang belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Kiranya Pak Jokowi bisa benar-benar mewujudkan visi revolusi mental yang memajukan bangsa dan negara. Sesuai yang dicita-citakan para founding father kita: mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan budaya nasional.

Saturday, November 22, 2014

OPINI: GONJANG-GANJING KOLOM AGAMA


Akhir-akhir ini orang sibuk memusingkan urusan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Mendagri Tjahjo Kumolo dan Menag Lukman Hakim menyatakan sepakat membolehkan kolom agama dikosongkan. Bagi WNI yang menganut keyakinan di luar 6 agama yang diakui di Indonesia katanya boleh dikosongkan pada kolom KTP tetapi tetap didata oleh database pemda. Bagaimana kebijakan pastinya, hingga kini belum diratifikasi secara resmi. 

Pro dan kontra soal agama terus bergulir. Pasalnya, negara ini bukan negara sekuler seperti Prancis misalnya yang memisahkan urusan pemerintahan dan agama. Kalau ditanya apakah negara ini negara agamis? Hmmph…jelas bukan. Negara ini katanya negara pancasila. Apa pula itu artinya? 

Telaah Pancasila
Sila pertama menyatakan, Ketuhanan Yang Maha Esa. Apakah negara kita lantas menjadi negara ketuhanan? Bagaimana dengan mereka yang merasa dan menyatakan diri tidak bertuhan? Sila kedua berkata, kemanusiaan yang adil dan beradab. Manusia mana yang dibahas? Seluruh lapisan masyarakat atau pemerintah atau keduanya? Adil juga adil yang bagaimana? Apa ukurannya? Soal agama bagaimana ukuran adil dan beradabnya? Katanya agama itu identitas seseorang. Seseorang yang pasti manusia kan? Jadi dimana letak keadilan yang dimaksud bagi warga negara yang merasa diri tidak bertuhan dan memiliki agama atau kepercayaan di luar 6 agama yang diakui negara ini?

Sila ketiga, persatuan Indonesia. Sangat mulia sila ketiga ini. Dasar negara yang berisi harapan mulia, kesatuan di atas kemajemukan bangsa ini. Ditegaskan juga dalam TAP MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa atau butir pengamalan pancasila bahwa persatuan Indonesia berarti menempatkan kesatuan dan persatuan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Pertanyaannya, apa moda yang mempersatukan bangsa ini? Haruskah monotheisme yang jadi moda pemersatu bangsa ini? Lalu kalau begitu mengapa dulu sila pertama dalam Piagam Jakarta diubah? Sekali lagi saya mempertanyakan, negara Pancasila kah kita atau negara agamis?

Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Rakyat itu butuh kebijaksanaan Anda-Anda semua, para wakil rakyat, pemerintah yang terhormat. Jadi tolonglah, bijak-bijak memutuskan sesuai aspirasi rakyat. Bermusyawarah selayaknya, yakni dengan akal sehat dan hati nurani. Jangan menyatakan “masyarakat sudah cerdas” sebagai jargon belaka. Mewakili tidak hanya kaum kapitalis, pun bertindak bagi masyarakat minoritas.

Sila terakhir, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lagi-lagi pancasila menegaskan perihal keadilan. Sedemikian pentingkah makna keadilan sehingga dimuat dalam 2 sila sekaligus? Dan keadilan di sini, tidak hanya soal individu. Tetapi lebih dari itu, keadilan sosial, yakni keadilan bagi masyarakat. Keadilan bagi orang banyak, bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk kepentingan golongan apalagi individu. Jadi ingat kata Pram, “adil lah sejak dalam pikiran.” Sudahkah hukum negara ini merealisasikan nilai-nilai luhur Pancasila? Akankah kebijakan pengosongan kolom agama itu adil, bijaksana dan mewakili kepentingan seluruh rakyat Indonesia? 

Pernikahan Beda Agama
Bagaimanapun, kebijakan pemerintah untuk membolehkan pengosongan kolom agama rasanya cukup menjadi angin segar bagi penganut agama minoritas. Namun permasalahannya tidak sesederhana itu. Amboi, urusan agama akhirnya tidak lagi jadi soal. Lalu apakah otomatis administrasi lainnya juga ikut beres? Pertanyaan terbesar adalah, apakah dengan dibolehkannya kolom agama di KTP kemudian menjadikan pernikahan beda agama legal?

Masih segar rasanya diingatan, tentang adanya alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang melayangkan uji materi UU Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi. Seorang mahasiswi dan 3 alumni itu meminta MK melegalkan pernikahan beda agama. Sebab musabab, UU tersebut dianggap menyalahi UU Kebebasan Berkeyakinan dan sila kesatu Pancasila Ketuhanan yang maha Esa. Selain itu, keempat mahasiswa FH itu juga menyangsikan diksi UU Perkawinan pasal 2 ayat (1) Nomor 1 Tahun 1974 yang menyatakan perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Penggunaan kata ganti orang ketiga “-nya” diklaim berpotensi multitafsir. Mereka meminta agar kata ganti orang ketiga tersebut direvisi menjadi “agama dan keyakinan mempelai.” Harapannya, revisi tersebut menutup jalur intervensi pihak ketiga.

Dalam taraf kehidupan sosial pun seringkali menyulitkan. Pertama-tama sudah pasti soal pencatatan sipil. Kedua, tentang pengesahan pernikahan. Bagi pasangan yang mampu, mereka bisa dengan mudah melenggang ke luar negeri. Sebut saja Australia untuk mengesahkan janji suci mereka. Namun bagaimana dengan pasangan yang tidak semampu itu untuk terbang ke negara asing? Apakah mereka pantas dibiarkan saja kumpul kebo atau mengorbankan salah satu keyakinan dan menjadi hipokrit?

Hubungan rumah tangga yang seharusnya didasari rasa cinta kasih dengan demikian terpaksa diselimuti kemunafikan akibat batasan hukum. Hukum yang seharusnya dibuat untuk manusia, bukan sebaliknya.

Bicara soal agama memang isu yang sangat sensitif. Namun, perlu saya tegaskan bahwa bicara soal pernikahan adalah isu yang bagi agama manapun pasti sakral. Ditentukan oleh Tuhan bukan manusia. Kedua, pernikahan adalah ranah privat, pribadi antar pribadi. Mengapa pula negara perlu mencampuri urusan kamar orang? Ketiga, walaupun bukan negara sekuler, para pemangku kebijakan sepatutnya mengingat bahwa ada enam agama yang diakui di Indonesia. Jangan hanya berpatokan pada satu ajaran agama saja. Keempat, kita perlu berpikir rasional. Kalau bicara soal hukum, maka kita bicara soal peran negara, kewajiban negara dan hak rakyat. Dengan demikian, perlu rasanya kita renungkan kembali dasar falsafah negara kita yang sedemikian luhur dirumuskan dan kembali kepada bertindak logis sesuai konstitusi yang berlaku.