Labels

Saturday, February 15, 2014

FILOSOFI "i"

Mengapa huruf vokal akhiran "i" identik penggunaan katanya dengan perempuan?

Laki-laki: Dewa; Putra; Siswa; Mahasiswa; Wartawan; Pramugara
Perempuan: Dewi; Putri; Siswi; Mahasiswi; Wartawati; Pramugari

Doc. Google Image
Huruf "i" dikenal sebagai huruf Latin, yang merupakan modifikasi dari Bahasa Yunani dan sesungguhya merupakan penyempurnaan huruf Roman. Bahasa tulis Indonesia juga menggunakan huruf ini dengan padanan huruf yang memiliki makna berbeda.

Jika dibaca dalam Bahasa Indonesia secara pictograf, huruf "i" bisa dilihat sebagai "satu titik". Huruf kecil "i", sebagaimana kita biasa membedakan penyebutannya dengan huruf kapital "I", penulisannya menyerupai angka satu dengan titik di atasnya. Dan dalam pemikiran saya, hal ini menegaskan banyak hal yang berhubungan dengan identiknya penggunaan huruf vokal akhiran "i" dengan role model perempuan.

"i", satu titik, bermakna sumber, awal dari sebuah goresan membentuk goresan-goresan lainnya. "i", satu titik, ialah sebuah kelahiran, penciptaan utama dari segala tulisan. "i", satu titik adalah asal muasal sebuah pemaknaan dan pemahaman.

Demikian pula pada perempuan, "i" digunakan pada kata ibu, gelar yang disandangkan untuk sosok perempuan yang sudah melahirkan, Dari ibulah kehidupan manusia dimulai di dunia ini. Ibu juga sosok pengajar perempuan, ibu guru, sosok yang penuh dedikasi dan kasih sayang, mengajar mereka yang tak tahu menjadi tahu.

Akhiran "i" juga ada pada kata logi, seperti planologi, biologi, sosiologi, dan logi-logi lainnya. Agak bias ya? Akan tetapi, saya merasa bahwa padanan kata ini bukanlah kebetulan semata. Kata-kata ini disistem sedemikian rupa sehingga terkait begitu rupa. Dengan demikian "i", satu titik juga berarti sumber pengetahuan.

Dalam urutannya, huruf vokal alfabet "i" berada pada posisi kedua setelah "a", mungkin karena itulah huruf "i" menjadi pilihan untuk perempuan. Sebab pada masa pra-feminisme, sejarah berlarut-larut dalam budaya patriarkat. Dimana kedudukan laki-laki selalu yang utama, sementara perempuan berada pada posisi kedua, setelah laki-laki. 

Terkadang saya suka sekali padanan kata dalam Bahasa Indonesia, seperti suami-istri dan laki-bini dalam Bahasa Betawi. Sama-sama menunjukkan kesetaraan dalam hubungan rumah tangga.  Pria dan wanita. Walau wanita memiliki pengertian harafiah atau makna terminologi yang tidak menyenangkan bagi kaum feminisme. Feminis lebih menekankan pada kata perempuan, yang bermakna keagungan dibandingkan wanita yang bermakna pemuas nafsu semata.

Hahaha...entahlah, artikel ini boleh jadi hanya gurauan dan sekadar pemikiran remeh-temeh, bahkan celotehan ngawur dan takabur. Semua terserah Anda, karena seperti kata Aurelius, Kaisar Romawi, "setiap kata yang Anda dengar adalah opini, bukan fakta. Setiap apa yang Anda lihat adalah perspektif, bukan kebenaran."

Doc. Google Image

Saturday, December 14, 2013

MIMPI

Gambar: cahayahitam-ins.blogspot.com
Morpheus
Serupa tapi tak sama

Januari musim semi
jiwaku berlabuh
Kala itu tabu lah rasa

Musim panas datang
bergelora dan menggebu-gebu
tiada tahu api mampu 
meranggaskanmu
tanpa ampun

Tahu-tahu musim gugur tiba
kenyataan menyadarkanmu
arti penting lalu lalang
Yah, kau sudah belajar

Menjelang musim dingin
langkah-langkah menjejak
kemudian lalu
segalanya putih

Memasuki musim hujan
Payung tersingkap menudungi
Basah tetap menggandrungi
Hanya saja kau tersembunyi
Dari mata telinga yang menghantui

Musim kemarau menyiangi
kau tengah menjadi kering

Di satu titik segalanya berpusat
memutar kembali pada satu titik

Januari musim semi
kau kembali
pada satu titik
halusinasinasi

Media dan Liputan Konflik


Foto: theviewspaper.net

Salah satu nilai berita yang menarik dan penting bagi khalayak ialah konflik. Konflik secara umum bersifat luas dan beragam latar belakangnya. Dalam jurnalistik, konflik yang dimaksud, yakni yang menjadi perebutan dominasi wacana; percecokan atau pertikaian yang melahirkan ketegangan sosial yang ditandai oleh meluasnya konflik pada sesuatu yang diperebutkan oleh pihak yang bertikai.

Wartawan merupakan garda terdepan yang akan memosisikan media dalam ranah pikiran publik. Hal tersebut sejalan dengan analisis framing dari Fairlough yang menyatakan bahwa pengalaman individu atau framing device yang akan menentukan bagaimana media memandang isu (Fairlough, 1997). Sejalan dengan itu pula, tidak heran bila jurnalis terkadang mengalami conflict of interest dalam penentuan lead dan angle liputan. Oleh karena itu, dalam meliput konflik, redaksi atau institusi media sebaiknya mengirim jurnalis yang mampu bersifat objektif dan terlepas dari konflik ketertarikan atau keberpihakan dalam suatu isu.

Praktiknya, jurnalis kesulitan meliput dari pelbagai sudut pandang dan konteks pemberitaan yang demikian beragam. Dengan demikian, untuk memudahkan penyajian suatu peliputan konflik, diperlukan agenda setting media yang tegas. Di mana realitas cenderung dikonstruksi secara sosial karena media prinsipnya ialah menceritakan kembali rangkaian peristiwa. Tahapan terkahir peliputan media mengenai suatu konflik diserahkan ke dalam kuasa gatekeeper.

Jurnalisme Damai
Guna meminimalisir pemberitaan media mengenai konflik yang destruktif, dibutuhkan pendekatan jurnalisme damai secara kooperatif. Jurnalisme damai ialah cara membingkai berita yang lebih luas, seimbang dan akurat menggambarkan analisa dan transformasi konflik. Pendekatan jurnalisme damai memberikan peta baru untuk menelusuri hubungan antara jurnalis, narasumber, cerita yang ia liput dan konsekuensi peliputan, termasuk di dalamnya, etika intervensi jurnalistik.

Pada tahun 1959, seorang veteran mediator damai asal Norwegia Profesor Johan Galtung membentuk dasar petunjuk praktis pertama mengenai Manual Jurnalisme Damai. Petunjuk praktis yang berisi hal-hal yang diperjuangkan jurnalis damai, yakni:
·         menghindari penggambaran konflik sebagai dua pihak yang memperebutkan satu tujuan, di mana hasil yang mungkin adalah pihak yang menang dan pihak yang kalah.
·         menghindari perbedaan antara diri sendiri dan orang lain, karena pemisahan tersebut cenderung memicu keabsurdan penilaian karakter kedua pihak yang tengah berkonflik.
·         hindari memperlakukan konflik sebagai sesuatu yang hanya terjadi di tempat dan waktu kekerasan terjadi. Sebaiknya, coba untuk menelusuri hubungan dan konsekuensi bagi orang di tempat lain pada saat itu dan di masa depan.

Konsep jurnalisme damai dikembangkan berdasarkan penawaran bahwa membekali reporter dengan keahlian resolusi konflik akan memungkinkan reporter tersebut menjadi professional yang lebih efektif. Orientasi jurnalisme damai ialah kemanusiaan, di mana konflik tidak hanya diwartakan sebagai sebuah peristiwa perang atau pertikaian, melainkan literasi non kekerasan yang menjadi tanggung jawab jurnalis mengenai konsekuensi pelaporan mereka.

Referensi: dari pelbagai sumber.